
BUPATI Kuantan Singingi (Kuansing), Suhardiman Amby, pantas berbangga hati karena helat besar Lomba Pacu Jalur yang mereka selenggarakan berhasil dengan sukses. Bahkan sampai mendunia. Memang dikabarkan panitia terutang sekitar Rp 300 juta, karena pendanaan tak dipersiapkan untuk kedatangan Wapres dan tamu mancanegara.
Bagi bupati boleh jadi hal ini tak begitu menjadi masalah. Sebab uang bisa dicari dengan pelbagai cara. Yang sekarang membuat dirinya masygul adalah karena air Sungai Kuantan kini keruh kembali. Padahal, menjelang acara pacu jalur aliran air sungai ini sudah mereka upayakan menjadi sangat jernih. Bebatuan di dasar sungai dan ikan-ikan beraneka jenis kelihatan jelas. Makanya, usai helat besar itu warga setempat justru menjadikannya sebagai tempat wisata baru.
Sebelumnya upaya membersihkan sungai ini boleh dikatakan sangat berat dan membutuhkan perjuangan yang besar. Maklum, di sepanjang aliran sungai tersebut dijadikan sebagai tempat penambangan emas secara liar. Para penambang mengeduk lumpur sungai dengan mesin dongpeng yang berisik dan kotor. Untuk memisahkan butiran emas dari tanah digunakan pula zat kimia merkuri yang sangat berbahaya bagi kesehatan.
Karena sudah menjadi matapencaharian, maka tak gampang bagi bupati untuk menertibkannya. Apalagi penambangan emas cukup menjanjikan, sehingga mereka berani mengeluarkan modal yang besar.
Untunglah pacu jalur viral ke seluruh dunia akibat adegan menari di atas perahu yang dilakukan si bocah Rayyan Arkan Dikha. Orang dari mancanegara berniat untuk datang menonton, sehingga semua pihak jadi terpacu untuk membersihkan Sungai Kuantan. Bahkan, Kapolda Riau langsung turun tangan menertibkan para penambang emas tanpa izin (PETI).
Sayang, usai pesta pacu jalur, air sungai mulai mengeruh kembali. Namun, kini masalahnya lebih rumit lagi. Sebab, yang membuat keruh bukan karena beroperasinya kembali para PETI yang sudah dilarang. Tapi dengan munculnya penambang di hulu sungai yang sudah berada di provinsi tetangga, Sumatera Barat. Tentu tak ada lagi kuasa bupati maupun kapolda untuk melarang.
Ternyata untuk mengatasi masalah ini bupati Suhardiman Amby masih tetap bisa bertindak bijaksana. Ia meminta Lembaga Adat Nagori (LAN) Kabupaten Kuansing untuk berkoordinasi dengan para datuk penghulu di Sumatera Barat, khususnya di Kabupaten Sijunjung, agar turut serta menghentikan aktivitas PETI tersebut.
Namun, bila upaya ini mentok, Suhardiman telah menyiapkan skenario lain. Ia mengancam akan membendung sungai tersebut sehingga akan berdampak bagi kawasan penduduk di provinsi tetangga tersebut.
Bagi Kuansing pembendungan sungai ini juga menguntungkan. Sebab bisa digunakan untuk menggerakkan turbin listrik yang dapat menerangi seluruh kabupaten tersebut.
Kita tunggu saja ending dari kisah Sungai Kuantan ini. Apakah bisa diselesaikan secara adat, atau terpaksa dengan cara "tangan besi", membendung sungai sehingga air akan selalu meluap di hulu. ***
* Irwan E. Siregar adalah wartawan senior bermastautin di Pekanbaru, Riau.