PANGKALAN KERINCI – Menjelang musim penghujan, wilayah sekitar aliran Sungai Kampar kerap dilanda genangan air yang berlangsung hingga dua bulan. Kondisi ini menyebabkan aktivitas warga terganggu dan hasil pertanian terancam gagal panen akibat tanaman terendam air. Puncak musim hujan diperkirakan terjadi antara Desember 2025 hingga Februari 2026.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau (Faperta UIR) menggagas program sawah terapung di Kelurahan Pelalawan. Inovasi ini menjadi bagian dari kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang bertujuan menjaga produktivitas pertanian di daerah rawan banjir.

Sosialisasi dan pelatihan sawah terapung dilakukan Jumat (7/11/2025) dengan melibatkan kelompok tani setempat. Peserta mendapat pelatihan pembuatan sistem terapung dan budidaya padi varietas lokal menggunakan metode System Rice Intensification (SRI).

Kegiatan berlanjut Selasa (11/11/2025) dengan penyerahan paket teknologi sawah terapung kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) Barokah Tani di Kelurahan Pelalawan. Paket tersebut terdiri dari rakitan drum bekas sebagai media terapung, campuran tanah dan arang sekam sebagai media tanam, pupuk organik cair, perlengkapan irigasi tetes, serta bibit padi lokal.

Program ini dipimpin oleh Dekan Faperta UIR, Dr. Ir. H. T. Edy Sabli, M.Si, bersama anggota tim Dr. Mardeleni, S.P., M.Sc dari Program Studi Agroteknologi dan Dr. Zaflis Zaim, S.T., M.Eng dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik UIR. Mahasiswa Faperta UIR, Nadila Ayuningtiyas dan Windy Novianty, juga ikut terlibat aktif dalam kegiatan tersebut.

Lokasi sawah terapung terletak di kawasan sekitar Istana Sayap, situs bersejarah peninggalan Kerajaan Pelalawan. Menurut Edy Sabli, kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Kemendiktiristek) melalui hibah PKM tahap tiga tahun 2025 dengan Nomor Kontrak: 07/LL.17/DT.05.00/PM-Batch II/22025.

"Kami berterima kasih kepada Kemendiktiristek atas dukungannya serta kepada KWT Barokah Tani yang menjadi mitra dalam pelaksanaan program ini," ujar Edy Sabli.

Ia menambahkan, teknologi sawah terapung diharapkan menjadi solusi jangka panjang bagi petani di daerah banjir untuk tetap berproduksi. "Konsep ini bisa diterapkan bukan hanya pada padi, tapi juga tanaman hortikultura seperti cabai, terung, tomat, dan sayuran dapur lainnya. Dengan begitu, ibu-ibu rumah tangga dapat menambah penghasilan atau paling tidak tetap memenuhi kebutuhan pangan saat banjir," jelasnya. ***