PEKANBARU - Pembaca setia GoRiau.com, ini merukapakan kisah terakhir tentang bocah ajaib "Hafiz Cilik'' dari Pekanbaru Riau, dimana ia akhirnya bisa melaksanakan mimpinya untuk melihat ka'bah di kota suci Makkah, yang dirangkum pada hari Minggu (03/01/2016).

Proses perjalanan Syekh Abdul Rasyid ke Arab Saudi memang tak semulus yang ia harapkan dan berbagai rintangan juga mewarnai rencananya ziarah ke makam Nabi Mumahammad SAW. Pada kesemptan kali ini GoRiau.com akan menceritakan dari awal kisahnya menuju baitullah.

Setelah merengek dan meminta kepada bundanya untuk melaksanakan ibadah haji, Syekh Rasyid diusia 4 tahun berlaku sangat aneh dan diluar kewajaran. Dimana ia selalu mengumandangkan talbiyah sambil memutari Ka'bah buatanya sendiri dari susunan Puzle.

Melihat tingkahnya tersebut baik ibunda rasyid dan tetangganya menjadi bingung dan tak sedikit yang mengatakan bahwa Rasyid sudah kesurupan.

Yulia masih duduk mematung di ruang tamu sambil melihat anaknya menghafal Al-qur'an didepan Ka'bah buatanya. Tidak usah ditanya bagaimana perasaan saat itu, ia sangat sedih dan kalut sekali melihat anaknya seperti orang gila. Ia menagis setiap melihat mata anaknya, dimana orang-orang selalu mengatakan sebagai bocah yang tidak waras.

Tiba-tiba Yulia tersenyum, matanya berbinar-binar seakan sudah menemukan solusi buat anaknya berangkat ke tanah suci. Ia teringat sebidang tanah dengan luas sekira 200 meter persegi yang dimilikinya. Ia berniat menjual tanah tersebut untuk memberangkatkan Rasyid.

"Nak kemarilah," panggil Yulia. Rasyid menengok ibundanya dan mendatanginya yang tengah duduk di Ruangan tamu dengan kursi berkulit polos warna cokelat.

"Ia bunda," jawab Rasyid sambil tersenyum manja. Kedua mata mereka bertemu dengan berbinar-binar.

"Sebentar lagi Rasyid akan berthawaf dan mengaji di Ka'bah yang asli nak," harap Yulia sambil memeluk anak kesayanganya.

Mata rasyid terlihat sumringah, ia masih tidak percaya dengan kata-kata bundanya. "Maksud bunda kita mau berangkat haji," tanya Rasyid. "Tidak sayang, kita akan berangkat umroh dulu," jawabnya.

"Memang bunda punya uang," tanya Rasyid lagi. Yulia tiba-tiba terdiam ngenes. Ia baru sadar tidaklah mudah menjual tanah, apalagi lokasinya yang tidak strategis. "Allah pasti berikan jalan nak, Rasyid berdoa saja ya," tutur Yulia.

Ternyata usaha Yulia untuk menjual tanahnya tidak butuh waktu lama. Betaba bahagianya Rasyid mendengar cerita ibunya, kalau tanahnya sudah terjual.

Rasyid dengan membopong Ka'bah buatanya langsung memeluk sang bunda, ketika Yulia mengatakan bahwa uang hasil jual tanah sudah didaftarkan ke salah satu biro perjalanan umroh.

Setelah itu ia melepas pelukannya dan langsung mendongak keatas sambil mulutnya terlihat komat kamit membaca doa syukur kepada sang pencipta.

Singkat cerita, Yulia akhirnya resmi mendaftarkan ke biro perjalanan yang ada di Pekanbaru, namun kesediahan belumlah berakhir. Dimana yulia dan Rasyid setelah menunggu berbulan-bulan tak kunjung juga berangkat ke tanah suci.

Hampir setiap hari Rasyid menanyakan kapan keberangkatanya ke Mekkah, Yulia panik dan bingung karena jawaban dari biro perjalanan umroh tidak bisa memberikan kepastian. Iapun berkenalan dengan salah satu biro lain dari Jakarta melalui media sosial, dia cari semua informasi tentang biro perjalanan umroh, dan akhirnya berkenalan lah Yulia dengan Awad salah satu pimpinan biro perjalanan.

Yulia menceritakan semua masalhnya kepada pemuda yang tinggal di Jakarta tersebut. Ditengah proses menunggu tanpa disadari Yulia, Rasyid melihat hand phonenya seperti ada chemistry dengan awad. Rasyid memandangi foto wajah pemuda yang nampak tenang dan jujur di HP bundanya.

Kehidupan Rasyid yang sejak dalam kandungan sudah tidak diakui ayah kandungnya. Iapun menumpahkan kesedihanya dengan menulis Sms kepada Awad. Kata-kata yang ia tulis tidak lah banyak dia hanya menulis kata "Abi". Hati bocah ini benar-benar sedang dirundung rindu kepada sosok ayahnya.

Awad yang tengah sibuk di Jakarta, seketika kaget membaca pesan yulia. Awad berfikir apa maksud perempuan ini memanggilnya Abi. Setiap balasan sms dari Awad, selalsu saja dibalas balik Rasyid dengan kata-kata bak orang dewasa.

Setelah menyadari bahwa itu bukan sms Yulia Awad pun langsung menelpon bundanya. Dan betapa kagetnya setelah yulia mendapat penjelasan dari Awad soal sms-sms yang dikirim Rasyid. "Maafkan saya mas, saya benar-benar tidak mengetahuinya ini anak saya yang pegang hp," tutur Yulia.

Setelah kejadian itu hubungan Yulia dan Awad mulai merenggang beberapa bulan. Namun tiba-tiba Awad kembali menghubunginya bahwa Rasyid dan Yulia akan segera berangkat.

Singkat cerita seminggu kemudian Rasyid dan Yulia berangkat ke Jakarta dengan Pesawat Garuda Indonesia G 195 A.

Tepat menjelang mahgrib Rasyid kembali memasuki pesawat yang akan membawanya ke Saudi Arabia. Sesudah 9 jam akhirnya pesawat landing di King Abdul Aziz International Air Port dan langsung naik bus yang membawa rombongan ke Hotel Madinah Mubarok Silevr yang tak jauh dari Masjid Nabawi.

Iapun tak sabar ingin langsung berziarah ke makam Nabi Muhammad yang ia jumpai dalam mimpinya. Keesokan harinya sungguh diluar dugaan Yulia dan rombongan, dimana Rasyid seperti sudah berulang-ulang datang ke Nabawi, ia menunjukkan semua tempat-tempat bersejarah di Masjid Nabawi dan kota Madinah.

Iapun langsung memanjatkan doa-doa didepan pusara rasulullah dan menangis sejadi-jadinya. Keseokan harinya mereka dengan menggunakan bus langsung menuju baitullah Ka'bah di Masjidil Haram Makkah. Setibanya di Makkah keanehan juga terjadi namun sebaliknya, kali ini yang mengalaminya adalah bundanya Rasyid. Dimana kakinya bergetar dan pikiranya kacau balau saat memasuki areal Ka'bah.

"Masuk bunda, kita akan thowaf dan berdoa," ucap Rasyid lirih. Namun seakan tak bisa mengucapkan kata-kata Yulia hanya menurut perkataan anaknya. Tiba-tiba Yulia jatuh tertunduk didepan Ka'bah, ia seperti dituntun untuk mengingat seluruh perbuatan yang ia lakukan semasa di Pekanbaru, ia teringat semua yang ia telah perbuat, termasuk kebiasaanya minum-minuman keras, pergi ke Diskotik dan tempat hiburan.

Yulia tiba-tiba menjerit, menangis badanya gemetaran dan tidak teringat apapun. "Ya allah sudah penuh dosa-dosa yang pernah kuperbuat selama ini, ampuni hamba ya allah, ampuni," teriaknya.

Rasyid dengan penuh rasa sayang mendekati ibundanya "istihfar bunda meminta ampunlah kepada allah," ucap Rasyid yang juga sudah basah dengan air matanya. "Ya allah jangan ambil nyawa saya, saya ingin masih menjaga anak saya, ya allah," teriaknya Yulia lagi.

Kaki Yulia seperti masih memaku dipelataran Masjidil Haram. Sambil memeluk erat anaknya Yulia berujar sambil menghiba. " ya allah jangan hukum hamba ditanah suci ini ya allah, ampunilah dosa hamba, ampunilah ya allah," ucapnya berulang-ulang.

Sampai akhirnya tiba waktunya mereka harus kembali ke penginapan setelah diberitahu oleh penjaga masjid.

Pembaca GoRiau.com, itulah kisah Syekh Rasyid yang sudah kita muat berseri dari Episode pertama sampai berakhir pada kisah dimana akhirnya dia berangkat ke tanah suci. Mudah-mudahan bermanfaat dan menjadi inspirasi buat kita semua. Untuk mendapatkan kisah lengkapnya anda bisa memiliki bukunya yang berjudul Suara dari Syurga dengan menghubungi 0812 7466 5660. ***