BAGANSIAPIAPI, GORIAU.COM - FJ Alek Motoh, salah satu veteran perang asal Menado, terenyuh dan menangis melihat teman seperjuangannya berada dipemakaman taman makam pahlawan. Dengan tongkat sebagai penyangga, dia dibopong anggota Paskibraka Rokan Hilir ditemani tiga temannya sesama veteran, Suroso, Rauf Ahmad dan Dasmin Utomo.


Sorot matanya begitu tajam, setajam dan sepedih hidupnya ketika dia bercerita tentang pengalamannya ketika masa perang. ''Kalau dikenang, tak tahu lagi dimana saya berada dan tiba tiba saja sudah punya anak karena seringnya berpindah pindah tugas,'' kata Alek Motoh usai upacara peringatan Hari Pahlawan, 10 November, Senin (10/11/2014) kepada GoRiau.com dikantor Veteran, Bagansiapiapi


Walaupun dalam kondisi kelelahan, kata Alek, dirinya harus siap untuk memperkuat pasukan dalam operasi Trikora, PRRI Semesta dan juga perang di Timor Timor.


Lain ceritanya dengan Selamat, salah satu veteran pembela kemerdekaan RI yang pernah berjuang di daerah Ronggah Ronggah Lampahan (Sumatera Utara). Dia mengisahkan peristiwa yang pernah dialaminya sewaktu agresi melawan penjajahan Belanda pada tahun 1947 sampai tahun 1949. Mereka sering bergerilya dan hidup berpindah-pindah.


''Kemana angin berhembus, disanalah kami berada,'' kenang Selamat. Pria yang berperawakan tinggi dengan kerutan wajah namun menyisa ketegasan dalam sikapnya itu mengungkapkan, panggilan jiwa dirinya bersama rekan-rekannya sesama pejuang, sehingga mengantarkan dirinya sampai ke Bagansiapiapi dan bergabung bersama dengan pejuang tempatan.


Seruan untuk bertempur melawan penjajah Belanda, kata Selamat, selalu dikumandangkan. Mereka rela berkorban tanpa pamrih dengan hanya satu tujuan, demi tegaknya NKRI. ''Saat itu kami berpikir bahwa kita harus merdeka dan jangan dijajah kembali. Kita siang malam berjuang tanpa pamrih,'' cetus Selamat.


Perang yang panjang, kata selamat, tidak sedikit rekan seperjuangannya tewas akibat bom pesawat ketika mereka sedang dalam keadaan terjepit. ''Hanya tiga orang yang tersisa. Selebihnya, banyak rekan-rekan seperjuangan saya tewas,'' kata Selamat dengan suara tercekat.


Suroso, veteran pejuang kemerdekaan juga mengisahkan, tentang pahit getirnya selama dirinya dikirim ke Irian Barat untuk merebut dan mengibarkan sang saka merah putih. bersenjatakan apa adanya, mereka bergabung dengan operasi Jaya Wijaya.


Kala itu dia bergabung dengan Kodam 1 untuk mengembalikan Papua ke pangkuan ibu pertiwi. Dikatakannya, untuk memperebut Papua, dia tidak sendiri. Mereka bergabung dengan putra putri terbaik Indonesia yang berasal dari papua, Sulawesi, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Setelah memperebutkan Papua, Suroso kembali dikirimkan ke Timor Timur, Sulawesi dan Aceh. Serangkaian perjuangan yang telah dialaminya, akhirnya mengantarkan dirinya kembali ke Bagansiapiapi.


''Akhirnya saya kembali dipulangkan ke Kodam 1 Bukit Barisan dengan pangkat terakhir Sersan Mayor. Karena pejuang yang sudah berumur diatas 65, harus dikembalikan di Kodam 1,'' tutur Suroso yang pernah memperkuat pasukan ke Timor Timur pada 10 Desember 1975. Dia mengatakan, berbekal dengan semangat persatuan dan strategi, mereka melakukan perlawanan. ''Banyak rekan-rekan kami ditangkap dan tidak tahu dimana mereka berada. Namun diantara mereka, ada juga yang masih hidup dan tinggal di Jawa,'' tutur Suroso.


Kini jumlah veteran perang yang ada di Rokan Hilir hanya tersisa 16 orang. 11 orang diantaranya dalam keadaan sakit. ''Kita tidak tahu kemana mau dikuburkan karena di Taman Makam Pahlawan sudah penuh. Mungkin saja di Taman Makam Bahagia,'' tutur Alek mencoba berkelakar di hadapan unsur Muspida yang hadir pada acara itu. (amr)