PENGGUNAAN Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan di ruang kelas biologi kini memicu perdebatan terkait perannya sebagai revolusi pendidikan atau justru ancaman bagi cara siswa berpikir kritis. Berdasarkan laporan terbaru NotieAI (2026), sekitar 88 persen siswa saat ini tercatat menggunakan alat AI dalam kegiatan belajar untuk mencari informasi hingga memahami konsep yang sulit.

"Sekitar 66 persen siswa menggunakan chatbot AI seperti ChatGPT dalam proses belajar mereka," sebut laporan dari Digital Education Council.

Biologi selama ini dikenal sebagai mata pelajaran dengan konsep kompleks yang sulit divisualisasikan hanya melalui teks. Proses seperti pembelahan sel, kerja enzim, atau sistem organ manusia kini bisa ditampilkan secara lebih nyata. Platform pembelajaran seperti Khan Academy dan aplikasi simulasi BioDigital Human memungkinkan siswa menjelajahi tubuh manusia secara virtual dalam bentuk tiga dimensi.

Kehadiran teknologi ini ternyata membawa dampak positif terhadap motivasi belajar di sekolah. Literasi digital yang baik berbanding lurus dengan prestasi siswa di ruang kelas.

"Siswa yang mampu memanfaatkan teknologi AI secara tepat cenderung lebih aktif dalam proses pembelajaran serta memiliki pemahaman konsep yang lebih baik," ungkap Peneliti, Ma’fud dan Abidin (2025).

Hal senada juga ditemukan dalam riset terkait persepsi peserta didik terhadap teknologi baru ini. Ruang kelas menjadi lebih hidup ketika siswa diberi akses untuk mencari informasi tambahan secara cepat.

"Penggunaan teknologi artificial intelligence dalam pembelajaran mampu meningkatkan keterlibatan siswa serta mendorong pembelajaran yang lebih berpusat pada peserta didik," papar Peneliti, Fajriati (2024).

Di balik berbagai kemudahan tersebut, dunia pendidikan dihadapkan pada kekhawatiran etika akademik. Ketergantungan terhadap AI berpotensi menurunkan kemampuan analisis dan berpikir kritis siswa. Muncul celah di mana siswa dapat menyelesaikan tugas secara instan tanpa benar-benar memahami substansi materi biologi yang sedang dipelajari.

Kondisi ini membuat peran pengajar di sekolah menjadi semakin krusial untuk mengawasi penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.

"Integrasi teknologi berbasis AI dalam pembelajaran seharusnya tidak menggantikan peran guru, tetapi menjadi alat pendukung untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Guru tetap berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa memahami konsep dan melatih kemampuan berpikir kritis," tegas Peneliti, Priyanti dan Wahyuni (2022). ***

Syarifah Masyail Atsila adalah Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Riau