
SELATPANJANG, GORIAU.COM - Kalau bukan cita-citanya menjadi tenaga pendidik, mungkin Riyati sudah lama memilih pekerjaan lain yang menjanjikan. Bagaimana tidak, meski sudah 10 tahun menjadi tenaga pendidik, Riyati hanya mendapat gaji Rp400 ribu perbulan.
Cerita itu terungkap ketika wartawan di Meranti, belum lama ini bertemu dengan Riyati di Dusun Bandaraya Desa Sokop Kecamatan Rangsang Pesisir beberapa waktu lalu.Waktu itu Riyati mengaku telah 10 tahun menjadi tenaga pendidik. Meski tidak menemukan kecukupan ekonomi, namun Riyati tidak pernah berniat berhenti menjadi seorang pendidik. Rasa iba nya kepada nasib penerus bangsa membuat dirinya hadir di tengah-tengah anak Komunitas Adat Terpencil (KAT) di Desa Sokop itu.Kata Riyati lagi, pagi hari Ia harus mengajar di SDN 15 Desa Repan, di sini Ia mendapat honor Rp400 ribu perbulan. Sedangkan sore hari Riyati mengajar anak-anak KAT. Sekolah yang menggunakan balai adat itu merupakan lokal lauh dari SDN 15 Repan. Di sini, Riyati dibayar Rp1 juta per 8 bulan."Awalnya 38 anak KAT itu belajar di sekolah induk SDN 15 Repan yang berjarak 10 KM dari dusun tersebut dan berjalan kaki. Untuk itu saya tergerak hatinya untuk mendirikan lokal jauh," kata Riyati.Ketika ditanya apakah cukup Rp400 ribu perbulan untuk biaya hidup di daerah pelosok yang biaya hidup mahal, Riyati mengaku sebenarnya hanya mampu memenuhi kehidupan sehari-hari (membeli kebutuhan primer/ makanan saja). Namun, karena rasa tanggungjawabnya untuk membuat pintar generasi penerus anak-anak KAT ini, Riyati tidak menghiraukan berapapun rezeki yang Ia terima.Tidak hanya itu, Riyati juga harus membawa kedua anaknya yang masih kecil, Faridah Nur Afiyah (4) dan si bungsu Rifqi Qhalaf Sadid (2) ke balai adat dan SDN 15 Desa Repan, sebab tidak ada yang menjaga kedua anaknya itu. "Suami sakit kronis, terpaksa mereka (kedua anaknya, red) dibawa setiap kali saya mengajar," ujarnya pula.Riyati juga mengaku telah berkali-kali meminta bantuan pendidikan dari Disdik Meranti melalui Kepala Sekolah SDN 15 Desa Repan, namun hingga saat ini belum ada realisasi dari apa yang mereka harapkan itu.Pantauan di lapangan, kondisi Balai Adat yang digunakan untuk belajar mengajar tidaklah memadai. Bangunan tidak berapa besar berwarna putih itu hanya ada satu meja yang digunakan untuk meja guru. Riyati harus duduk lesehan dengan satu meja. Sedangkan siswa harus duduk lesehan tanpa ada meja. Meski menggunakan pakaian SD, namun siswa Riyati ini ada yang menggunakan sepatu, ada yang menggunakan sandal, bahkan ada pula yang tidak menggunakan alas kaki sama sekali.(zal)