KUALALUMPUR, GORIAU.COM  - Belum diketahuinya nasib pesawat Malaysia Airlines nomor penerbangan MH370, memunculkan berbagai spekulasi tentang penyebab hilangnya pesawat tersebut.

Ahli penerbangan di kantor berita CNN Richard Quest mengatakan,  pesawat itu terbang di rute Kuala Lumpur-Beijing, di saat yang paling aman. Kemungkinan adanya kesalahan teknis sangat kecil karena pesawat dalam posisi auto-pilot di ketinggian."Jadi dari sudut pandang penerbangan, ini adalah saat paling aman, tidak ada yang bisa salah. Pesawat di ketinggian dalam mode auto-pilot, pilot hanya melakukan sedikit koreksi dan perubahan untuk ketinggian. Jadi sangat serius jika terjadi sesuatu di tahap penerbangan ini," kata dia.Ada beberapa kemungkinan soal penyebab kecelakaan, seperti dilansir The Malaysian Insider:Pertama, adanya kerusakan struktur pesawat atau pada mesin Rolls-Royce Trent 800. Kebanyakan pesawat dibuat dari alumunium yang rentan karat, terutama di daerah dengan kelembaban tinggi.Namun para ahli menafikannya, mengingat rekam jejak Boeing 777 yang terbaik dari sejarah penerbangan, 18 tahun tanpa insiden.Kedua, cuaca buruk. Pesawat dirancang untuk terbang melalui cuaca terburuk. Namun pada Juni 2009 pesawat Air France dari Rio de Janeiro ke Paris rusak saat cuaca buruk menerpa di atas Samudera Atlantik. Indikator kecepatan udara di Airbus A330 itu membeku, memberikan angka yang salah.Akibatnya, pilot kehilangan arah dan mendaratkan pesawat di laut. Sebanyak 228 penumpang dan kru tewas, pilot tidak sempat meminta bantuan. Namun dalam kasus Malaysian Airline, seluruh indikasi menunjukkan bahwa saat itu cuaca tengah cerah.Ketiga, disorientasi pilot. Todd Curtis, mantan teknisi keamanan Boeing 777 mengatakan ada kemungkinan pilot mematikan auto-pilot dan terbang melenceng jalur dan telat menyadarinya. Pesawat bisa lima-enam jam dari titik terbang awal, sekitar 3.000 mil tersasar.Namun kemungkinan ini juga dimentahkan. Pasalnya, jika tersesat pesawat masih bisa dilacak radar.Keempat, rusaknya kedua mesin. Januari 2008 lalu, pesawat maskapai British Airways 777 jatuh sekitar 1.000 kaki dari landasan di Bandara Heathtow London. Pesawat saat itu hendak mendarat, namun kedua mesin mati karena sistem bahan bakar membeku. Tidak ada korban tewas.Kemungkinan ini bisa jadi. Namun Scott Hamilton, direktur pelaksana konsultan penerbangan Leeham Co mengatakan, jika mesin mati ada waktu sekitar 20 menit bagi pesawat untuk melayang jatuh. Waktu ini bisa digunakan pilot memberitahukan situasi darurat.Kelima, bom. Beberapa pesawat jatuh karena bom, di antaranya penerbangan Pan AM 103 dari London ke New York pada Desember 1988. Penerbangan Air India pada Juni 1985 antara Montreal dan London dan penerbangan maskapai Prancis Union des Transport Aeriens tahun 1989 juga pernah jatuh dibom di atas Sahara.Keenam, pembajakan. Pembajakan biasa sepertinya tidak mungkin, karena pelaku akan mendaratkan pesawatnya di bandara dan menuntut tebusan. Tapi pembajakan seperti peristiwa 9/11 bisa jadi, pelaku menjatuhkan pesawat ke laut.Ketujuh, pilot bunuh diri. Ada dua kecelakaan pesawat pada akhir 1990an, penerbangan SilkAir dan EgyptAir, yang diduga akibat pilot sengaja menabrakan pesawat. Tidak ada pernyataan resmi dari pemerintah pada dua insiden ini, tapi para ahli mengatakan bahwa kecelakaan itu akibat ulah pilot.Kedelapan, tidak sengaja tertembak militer. Pada Juli 1988, kapal perang Amerika Serikat USS Vincennes tidak sengaja menembak jatuh pesawat Iran Air, menewaskan 290 penumpang dan kru. Pada September 1983, pesawat Korean Air Lines ditembak jatuh pesawat jet Rusia.Kapten John M Cox, pilot yang sudah 25 tahun terbang dengan US Airways mengatakan apapun yang terjadi dengan pesawat Malaysia Airlines, terjadi sangat cepat. Masalahnya juga pasti sangat besar, sehingga pelacak pesawat berhenti menyiarkan titik lokasi mereka.Cox mengatakan, spekulasi bisa saja liar, namun penyebab pastinya baru akan terungkap jika pesawat ditemukan. "Kita hanya tahu pesawat jatuh. Selain itu, kita tidak tahu banyak," kata Cox.***