GORIAU.COM -Mulai indikasi penggelembungan, hingga keberadaan tempat pemungutan suara (TPS) 'si luman', semuanya 'termuntahkan'. Alhasil, pengunjung hanya bisa tercengang ketika mereka yang duduk didepan 'menghujani' Komisi Pemilihan Umum setempat dengan ungkapan protes penuh emosi.

Teriakan sekelompok orang, "Huuuu...." bergemuruh mencemooh sekerumunan orang yang duduk paling depan saling berhadapan.

Lantas, bagaimana dengan sekerumunan pria dewasa lainnya, "prak.... prak.... prak....," bertepuk tangan memberikan dukungan datangnya mendung.

Mambang Mit pun melenggangkan tungkainya mengarah ke pintu keluar gedung, dengan wajah berparas 'mendung', namun santai menyalami sejumlah awak media yang enggan untuk mewawancarai kandidat yang baru saja 'divonis' gugur itu.

Dia baru saja gagal dalam pertarungan politik, setelah sebelumnya didera serentetan kegagalan-kegagalan lainnya. Gagal merebut 'perahu' politik Partai Demokrat, dan gagal untuk mencalonkan diri sebagai kandidat pengganti Rusli Zainal.

Rapat Pleno terbuka rekapitulasi dan penetapan hasil penghitungan suara Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Riau 2013 pada Minggu memang situasi yang mengharukan bagi 'Ayah MM'.

Disisi lain, keadilan Tuhan memang tidak terbantahkan. Karena penakhluk 'Demokrat' yang suka 'ber--Amal' itu juga mengalami kegagalan yang sama menyakitkan. Beruntungnya, dia masih berada pada satu 'kerajaan' kecil di negeri seribu suluk.

Berjalan 'Lurus', juga mengalami nasib tak kalah buruk. Usai mendatangkan penguasa Ibu Kota, Jakarta, yang suka blusukan, kandidat ini pun masih belum mampu menakhlukkan hati masyarakat, 'Layu'.

"Prak... prak.... prak...," tepuk tangan hadirin ketika itu hanya untuk ke--sukses--an dua kandidat yang tak menampangkan batang hidungnya. Mereka yang 'Hebat', dan dia yang mengaku selalu 'Aman', absen dari kegiatan Rapat Pleno terbuka rekapitulasi dan penetapan hasil penghitungan suara Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Riau 2013 pada Minggu (15/9/2013) yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat.

Melanjutkan tulisan sebelumnya berjudul ; "Rapat Pleno Pilgubri Layaknya Dagelan dan Topeng Monyet", definisinya adalah 'hujan' protes dari sejumlah saksi masing-masing kandidat.

Drama itu diawali protes seorang saksi pasangan nomor urut 1, Herman-Agus (Hebat), terkait indikasi kecurangan di sejumlah kabupaten dan kota pada pencoblosan 4 September 2013.

Saksi menyatakan pihak panitia penyelenggara dalam hal ini Komisi Pemilihan Umum di beberapa kabupaten/kota tidak memberikan pertimbangan atas formulir pemilih yang tidak merata. "Selain itu, banyak juga pembagian formulir pemilih yang ganda, namun masih juga sianggap sah oleh KPU di daerah," katanya.

Saksi pasangan 'Hebat; ini juga memprotes adanya indikasi penggelembungan suara di Kabupaten Rokan Hulu dan Rokan Hilir, 'markas' dua kandidat yakni Achmad-Masrul (nomor urut 4) dan Anas-Andi (nomor urut 2).

Namun KPU dua kabupaten itu menganggap protes yang disampaikan terlambah mengingat hasil rekapitulasi telah sah dan ditandatangi seluruh saksi yang ada saat pencoblosan.

Kemudian dilanjutkan dengan aksi protes dari saksi pasangan nomor urut 1 (Anas-Andi/Aman) juga terkait penggelembungan suara di beberapa wilayah pencoblosan.

"Sangat benyak indikasi kecurangan yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Diantaranya yakni di beberapa TPS (Tempat Pemungutan Suara) yang ada di Pekanbaru, banyak hasil rekapitulasi tidak sesuai dengan fakta di lapangan," kata Roni Riyansyah, saksi itu.

Roni mengatakan, indikasi kecurangan bahkan menjurus pada pidana juga terjadi di hampir seluruh kabupaten dan kota saat dilakukannya rekapitulasi suara di tingkat kecamatan. "Kami memiliki datanya, kecuali itu Kabupaten Rokan Hilir dan Rokan Hulu, kemudian Kota Dumai. Karena kami memang tidak ada datanya," kata dia.

Saksi pasangan 'Aman' ini kemudian memutuskan untuk keluar dari Rapat Pleno sebelum berakhirnya acara itu. "Langkah ini sudah kami pertimbangkan dan kami berharap KPU akan mengevaluasi rekapitulasi per kabupaten/kota atau bahkan per kecamatan," katanya.

Menanggapi hal itu, Ketua KPU Riau tengku Edy Sabli mempersilahkan para saksi tersebut untuk mengambil langkah-langkah strategis namun tanpa harus berbuat rusuh di Rapat Pleno.

'Hujan' protes juga dilakukan oleh sejumlah saksi dari kandidat calon Gubernur dan Wakil Gubernur Riau lainnya. Namun pihak KPU tetap melanjutkan Rapat Pleno hingga tuntas dan memastikan Pilkada Riau akan dilaksanakan dua putara.

Hal itu menurut Ketua KPU, karena tidak ada kandidat yang mempu meraih atau mengumpulkan suara lebih dari 30 persen. Sesuai dengan aturan atau undang-undang yang berlaku, demikian Sabli, maka Pilkada Riau akan dilanjutkan hingga putaran kedua pada 30 Oktober 2013.

Pada Pilkada Riau yang dilaksakan secara langsung dan serentak di 12 kabupaten/kota di Riau pada 4 September 2013, KPU Riau secara resmi menetapkan kemenangan dua pasang calon yakni nomor urut 1 Herman-Agus dan kandidat nomor urut 2 Anas-Andi.

Pasangan Anas-Andi memperoleh suara terbanyak dengan jumlah mencapai 685.291 (28,83 persen), sementara pasangan Herman-Agus ditempat kedua dengan mengumpulkan sebanyak 546.714 suara (23,00 persen) sehingga dipastikan keduanya pakal bertarung di putaran kedua.

Sementara tiga kandidat lainnya, yakni nomor urut 4 Achmad-Masrul berada di posisi keempat dengan perolehan 492.665 suara (20,73 persen), disusul dengan pasangan Lukman Edy-Suryadi (nomor urut 3) yang mendapat 333.621 suara (14,04 persen).

Untuk pasangan bernomor urut 5 yakni Jon Erizal-Mambang Mit berada di posisi akhir dengan hanya mampu mengumpulkan sebanyak 318.548 suara atau setara dengan 13,40 persen saja.

Perebutan 'kursi' Rusli Zainal masih akan berlanjut di 30 Oktober mendatang dengan sajian pertarungan sengit, antara kandidat 'Hebat' dan 'Aman'. Siapa jagoan 'anda !'(fzr)