
PEKANBARU - Masih ingat dengan bencana kabut asap yang melanda Provinsi Riau pada 2015 lalu? Saat itu pemerintah dibuat bekerja lebih ekstra, sementara masyarakat banyak yang eksodus akibat paparan asap yang menimbulkan penyakit pernafasan. Belasan ribu orang terjangkit ISPA, hingga ada yang meninggal dunia.
Ketika bencana asap itu, semua lini turut dilibatkan dalam upaya pemadaman kebakaran lahan dan hutan (Karlahut) yang jadi biang masalah, mulai dari TNI, Polri, instansi pemerintahan hingga masyarakat, serta BPBD sebagai perpanjangan dari BNPB Pusat. Tak sedikit pula dana dianggarkan.
Di 2016, potensi serupa sedikit demi sedikit mulai bisa diantisipasi. Udara sehat juga sudah bisa dinikmati masyarakat Riau dalam beberapa bulan terakhir. Selain itu, Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Riau yang jadi 'jantung' dari upaya pemadaman sekaligus pencegahan Karlahut juga sudah bisa 'santai' sejenak.
Bahkan Website resmi milik BPBD juga ikut-ikutan 'mati suri'. Penelusuran GoRiau.com, situs ini terakhir update dua bulan lalu, tepatnya bulan Maret. "Oh iya? Saya tak tahu, lagi error kali tuh," kilah Kepala BPBD Riau, Edwar Sanger saat dimintai tanggapannya terkait minimnya sajian informasi dari situs resmi badan yang dipimpinnya tersebut.
"Kita kan fokus kebakaran hutan dan lahan, jadi mungkin belum optimal soal yang itu (website, red)," bantah dia lagi. Semestinya, situs resmi BPBD ini bisa jadi acuan masyarakat dalam mendapat informasi terkini seputar upaya penanganan Karlahut, termasuk kegiatan pencegahan hingga ke pengaduan-pengaduan.
"Atau mungkin lagi rusak itunya, apa namanya tu, server ya, saya tak ngerti juga apa namanya," tutur Edwar Sanger. ***