PEKANBARU – Kelompok penyandang disabilitas di Provinsi Riau menyuarakan kekecewaan atas minimnya akses Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan perhatian pemerintah yang dinilai hanya muncul menjelang pemilihan umum. Aspirasi tajam tersebut disampaikan langsung kepada Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan dari Riau, Dewi Juliani, dan Anggota DPRD Kota Pekanbaru, Zulkardi.

Keduanya menyerap keluhan warga dalam kegiatan "Berbagi Berkah Ramadan" yang turut dihadiri anak yatim piatu dan keluarga kurang mampu, Sabtu (7/3/2026). Perwakilan Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) Riau, Yogi, meminta para wakil rakyat memperlakukan kelompok disabilitas secara adil agar tidak terus menjadi masyarakat kelas tiga.

Kekecewaan serupa diungkapkan Marjoni yang menyoroti realisasi BLT di lapangan sama sekali tidak sejalan dengan instruksi pemerintah pusat.

"Instruksi dari pusat katanya disabilitas diprioritaskan untuk BLT. Tapi kalau kita tanya di sini, berapa yang dapat? Mungkin hanya sekitar lima sampai tujuh persen saja," ujar Marjoni.

Peserta lainnya, Syahrul, mengkritik keras fenomena elit politik yang kerap memanfaatkan kelompok disabilitas hanya demi meraup suara. Perhatian terhadap hak-hak penyandang cacat sering kali menguap usai kontestasi politik berakhir.

Di sisi ekonomi, Surya memaparkan ketatnya persaingan jasa pijat di era modern yang membuat para tunanetra semakin tersisih karena keterbatasan alat dan minimnya pembaruan keahlian.

"Kami banyak bekerja sebagai tukang urut. Tapi sekarang persaingan semakin banyak. Kami berharap ada tempat atau fasilitas agar kami bisa mengembangkan kemampuan dan tetap bisa bersaing di dunia kerja," keluh Surya.

Menyikapi rentetan keluhan tersebut, Dewi Juliani berjanji akan mengawal kebutuhan peningkatan keterampilan dan akses bantuan sosial bagi para tunanetra hingga ke tingkat kebijakan. Ia meminta kelompok disabilitas tidak patah semangat karena wakil rakyat memiliki kewajiban moral dan konstitusional untuk hadir membela hak mereka.

"Jangan berkecil hati dan jangan merasa sendiri. Kami hadir di sini sebagai perwakilan saudara-saudara sekalian untuk memperjuangkan apa yang menjadi hak masyarakat," tegas Dewi.

Sebagai langkah konkret, Dewi merancang program pelatihan pijat profesional dan terapi bekam guna meningkatkan daya saing para tunanetra di Pekanbaru. Pengadaan peralatan pendukung akan segera diupayakan agar layanan jasa yang ditawarkan memiliki nilai tambah secara ekonomi.

"Harapannya dengan pelatihan dan dukungan peralatan, kemampuan mereka meningkat sehingga taraf hidup juga ikut meningkat," pungkasnya. ***