
PEKANBARU, GORIAU.COM - Berada di baris terdepan dalam pertempuran dimasa lalu bukanlah perihal mudah, dimana nyawa bisa kapan saja melayang. Ini yang dialami seorang veteran di Pekanbaru, Riau, bernama Syamsul Jaafar, yang pernah ikut tiga operasi militer besar Indonesia.
Pak Syamsul (sapaan akrabnya) merupakan mantan pejuang pembela tanah air Indonesia masa lalu. Dulunya, ia bahkan sempat bergabung dalam pasukan baris depan, yang ia sebut dengan istilah Jopan (Jangkauan Depan). Timnya tidak begitu menonjol, namun perannya sangat vital dalam kesuksesan satu misi khusus.
"Dalam segala pertempuran saya berada dibarisan terdepan sebagai Jopan. Tugas kami melaporkan kondisi musuh dipertempuran yang terjadi, mencari koordinat musuh, menghitung target hingga jarak jangkau senjata, termasuk mortir. Tugas lainnya juga mengurusi para tawanan perang," ujar pria yang kini berumur 73 tahun tersebut.
Seingatnya, Pak Syamsul pernah dilibatkan dalam tiga misi besar, yaknioperasi pembebasan Irian Barat yang dikenal dengan Trikora, lalu konfrontasi Indonesia dan Malaysia di Selat Malaka tahun 1966, yang dikenal dengan operasi Dwikora, serta yang terakhir operasi Seroja, saat konflik Timor Timur tahun 1976.
"Yang paling berkesan itu saat ikut dalam operasi Seroja. Ketika itu kami ditugasi menjemput tawanan perang. Kekuatan kami satu peleton. Lalu saat diperjalanan, tiba-tiba ada penyusup sehingga terjadi kontak senjata. Saya tertembak di tangan kiri, teman saya bahkan ada yang meninggal," ingat dia saat berbincang dengan GoRiau.com, di kantor Legiun Veteran, Jalan Cut Nyak Dien Pekanbaru, Selasa (10/11/2015) siang.
Selain musuh, Pak Syamsul dan timnya juga kerap berhadapan dengan rasa lapar, karena kehabisan stok logistik. Maklum saja, tugas berat mereka bukan perihal mudah dan tidak bisa ditentukan kapan selesainya. "Jangankan mikirin uang, makan saja kadang lupa. Kami memang dibentuk untuk bela negara dan mempertahankan negara," jawabnya tegas.
"Kalau sedang di hutan dan habis stok makanan, kami biasa makan apa yang ada kayak ubi, ular, apasaja yang penting bisa hidup. Soalnya logistik tidak bisa langsung datang, karena butuh waktu tempuh. Yang berbahaya itu kalau kehabisan stok senjata dan amunisi, misalnya helikopter ditembak jatuh, otomatis kita tak punya pertahanan," kisahnya.
Kini Pak Syamsul sudah tidak lagi ikut berperang, sekarang dirinya sudah bisa menikmati hasil 'keringat darah' yang dilalui para pejuang dizamannya. Ia ingin agar generasi penerus, bisa memajukan Indonesia di masa depan. "Menjadi TNI murni dari hati, kalau tidak, mungkin kami tak sanggup menjalaninya. Berapa banyak yang disersi, berapa banyak pula yang mati di medan tempur," tukasnya. ***