PANGKALAN KERINCI, GORIAU.COM - Tarik ulur kepentingan para pejabat di Kementerian ESDM diduga menjadi salah satu faktor penghambat upaya pemerintah Kabupaten Pelalawan untuk menyukseskan program 'Pelalawan Terang' menuju 'zero' defisit energi listrik.
"Saat ini, jika pengurusan izin suplai gas untuk bahan pembangkit Listrik di PLTG Langgam dari pihak SKK Migas Pusat masih terus mandek. Untuk merealisasikan program Pelalawan Terang, Pemkab Pelalawan berencana akan mencari dan menggunakan bahan alternatif lain, selain gas tentunya," kata Bupati Pelalawan HM Harris pada sejumlah meia di Pangkalan Kerinci, belum lama ini.
Menurutnya, Pemkab Pelalawan ingin menggesa secepat mungkin launching PLTG Langgam supaya masyarakat Kabupaten Pelalawan bisa secepatnya terbebas dari krisis listrik yang mendera selama ini. "Tapi sampai saat ini, kami masih belum bisa melaksanakan pendistribusin aliran lsitrik pada masyarakat karena masih terjadi tarik ulur kepentingan di Kementerian ESDM," ujarnya.
Jadi, lanjut Harrsi, kalau pihak pusat terus bersikeras tak mau menggeluarkan izin pipa gas, maka pemkab akan berusaha mencarikan bahan alternatif lain guna menjadi bahan pembangkit listrik sehingga PLTG bisa beroperasi nantinya.
Harris menjelaskan bahwa PLTG Langam Power itu dibangun dengan kapasitas 15 MW dan saat ini kapasitas tersebut baru untuk mengatasi kebutuhan listrik yang dibutuhkan masyarakat Pelalawan. Kedepannya, kapasistas daya listrik PLTG Langgam itu direncanakan akanditambah untuk kebutuhkan pasokan listrik pada pembangunan kawasan teknopolitan.
"Kalau kebutuhan untuk pasokan listrik yang dibutuhkan teknopolitan sampai tahun 2025 mendatang, maka mencapai 350 Megawatt," katanya.
Terpisah, pimpinan manajement PT Kalila, Darul Hidayat, mengatakan bahwa pihaknya yang ditunjuk oleh Kementerian ESDM pusat untuk melakukan esploitasi gas yang ada di di Kecamatan Langgam tidak memiliki kewenangan untuk ikut campur dalam masalah izin sertifikasi safety pipa gas yang dikeluarkan pihak SKK Migas.
"Dalam pekerjaan eksploitasi gas di Langgam ini, kami diibaratkan sebagai tukang cangkul saja. Artinya, setelah hasil yang dicangkulgas di dalam perut bumi itu keluar maka hasilnya diberikan pada pemerintah. Sedangkan kami hanya dapat hasil persen saja dari upahmencangkul gas itu. Kemudian setelah gas di dalam perut bumi kami keluarkan dan ada pembelinya, kami akan lakukan kontrak kerja. Barukemudian kami suplai gas tersebut pada pembelinya," ungkapnya.
Ditambahkannya, tapi kalau masalah penuntasan penyelesaian pengerjaan penyambungan pipa gas dari pipa gas dikelola PT SGP ke PLTGmaka pihaknya akan membantunya untuk menuntaskannya dalam waktu dekat ini.
"Kami berjanji akan siap membantu untuk melakukan pemasangan penyambungan pipa gas ke PLTG. Diperkirahkan hanya dalam waktu seminggu kedepan ini pemasangan penyambungan pipa gas ke PLTGÂ sudah bisa diselesaikan pengerjaannya oleh para petugas perusahaan sub kontraktor kami di lapangan," pungkasnya.(ilm)