PEKANBARU, GORIAU.COM - Pemilihan Bujang dan Dara Riau dinilai tidak mencerminkan budaya Melayu. Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) pun angkat bicara.


''Saya sangat kecewa dengan acara ini. Acara yang katanya ini akan mengusung kebudayaan Melayu nyatanya budaya Melayu itu sangat minor,'' kata Ketua Umum Dewan Pengurus Harian (DPH) Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Al Azhar MS.


Selain itu menurut Al Azhar, para finalis tidak dimaksimalkan pemahamannya tentang kebudayaan melayu yang beradab, salah satunya dalam segi berpakaian. ''Kemarin mereka mendatangi LAMR, sempat tidak kita terima, namun kita menyadari ini kedodoran dari panitia, bukan kesalahan anak-anak itu,'' bebernya.


Al Azhar juga menyayangkan tidak adanya koordinasi panitia dengan LAM Riau. Al Azhar juga menilai acara tahun ini jauh lebih buruk jika dibandingkan dengan tahun lalu. ''Tahun lalu juga tidak bagus tapi lebih terjaga, mereka tidak menabrak nilai-nilai budaya Melayu,'' kata Al Azhar lagi.


Selain itu, kekesalan tokoh melayu Riau ini juga ditujukan pada Kabupaten Kota yang telah mengirimkan utusannya pada acara bujang dara, sebab tidak sedikit diantara finalis yang tidak bisa berbahasa Inggris. Padahal menurut Al Azhar bahasa Inggris sangat dibutuhkan.


Selain itu menurut Al Azhar lagi, ia tidak melihat alumni Bujang Dara Riau diberlakukan, sangat jarang terlihat Bujang Dara Riau menyambut tamu kehormatan pada acara resmi provinsi.


Untuk itu Al Azhar meminta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau kedepannya agar lebih maksimal dalam berkoordinasi dengan pihak yang menguasai agar tidak terjadi kebobrokan ini lagi.


''Perlu ada kurator jangan, hanya dipercayakan 100 persen hanya pada panitia struktural. Ini kelemahan besar dinas, kalau berbicara budaya maka mereka harus menggunakan orang-orang yang tau tentang itu secara maksimal. Namun yang terjadi, mereka berjalan sendiri sehingga terjadi kelemahan ini,'' tambahnya lagi.


Menanggapi itu, Kadisbudpar Riau Said Syarifuddin mengatakan mereka telah berbuat maksimal, namun kalau ada kekurangan maka mereka akan memperbaiki pada tahun berikut.


''Kalau kita sudah berusaha semaksimal mungkin, masalah undangan kita tidak bisa membatasi, mereka mau berpakaian seperti apa. Kalau kekurangan itu akan kita perbaiki, perlu kita tingkatkan lagi tahun berikutnya,'' kata Said Syarifuddin.

Turut hadir, DR (HC) Tenas Effendy sebagai Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAMR periode 2012-2017. Asisten II Provinsi Riau Emrizal Pakis dan beberapa dewan juri dari Jakarta. (nti)