SIAK SRI INDRAPURA - Pemerintah Kabupaten Siak bekerjasama dengan Badan Restorasi Gambut (BRG) mengembangkan teknologi melalui sistim Aerohydro Culture di lahan gambut yang ada di Kabupaten Siak, Riau.

Bupati Siak, Syamsuar mengatakan teknologi terbaru dibidang pertanian ini, dapat ditindaklanjuti dengan  kerjasama dan sinergi dalam rangka usaha mengembangkan sektor perkebunan kelapa sawit yang ramah lingkungan, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Siak.

"Sesuai dengan peraturan yang ada, bahwa lahan gambut di zona budidaya praktik pengelolaannya harus dilakukan memenuhi kaidah pengelolaan lahan yang ramah gambut dan berkelanjutan," kata Syamsuar kepada GoRiau.com, Senin (4/2/2019).

Oleh karena itu, lebih dari 20 tahun para peneliti Indonesia maupun internasional telah banyak melakukan penelitian mengenai ekosistem gambut dan metode restorasi lahan gambut, sambung Syamsuar. Kegiatan penelitian ini telah menghasilkan banyak publikasi dan rekomendasi terhadap kebijakan, dan hasil dari beberapa penelitian telah digunakan sebagai dasar sains dalam penyusunan peraturan di Indonesia tentang pengelolaan lahan gambut.

Salah satu contoh peraturan tersebut adalah Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Lahan Gambut, yang didalamnya mengatur persyaratan ketinggian muka air tanah di lahan gambut yang dikelola harus dipertahankan lebih dari 40 centimeter di bawah permukaan tanah, atau persyaratan bahwa 30 persen dari setiap kubah gambut dialokasikan untuk konservasi kubah gambut.

"Penelitian lebih lanjut terkait hal ini perlu dilakukan untuk dapat meyakinkan banyak pemangku kepentingan untuk menerima peraturan ini. Pemerintah Daerah mendukung pelaksanaan Workshop Penerapan Sistem Aerohydro Culture di Lahan Gambut ini, sebagai bentuk sharing ilmu dan metodologi terkait pengelolaan lahan gambut dengan sistem aero hydroculture," ujar Syamsuar.

Dengan diselenggarakannya Workshop ini, lanjutnya, dapat memberikan pandangan dan pemahaman yang sama mengenai metodologi penerapan sistim aerohydro culture, sehingga nantinya teknologi yang sudah diuji tingkat keberhasilannya dan dapat diimplementasikan di Kabupaten Siak.

"Semoga visi Kabupaten Siak Hijau yang telah kita bangun bersama, dan telah dicanangkan oleh Ibu Menteri KLHK beberapa tahun lalu, terus menjadi semangat untuk memberikan perhatian serius kepada lingkungan hidup. Dimana sebagian dari alam lingkungan di Kabupaten Siak tersebut merupakan lahan gambut yang harus terus dijaga kelestariannya dengan memperhatikan tingkat kelembaban dan metoda pengelolaannya," jelas Syamsuar.

Workshop Pengembangan Sistim Aerohydro Culture ini juga dihadiri Profesor Mitsuru Osaki dari Jepang, Dr Sarjiya Antonius dari LIPI, dan Dr Maman Turjaman Pusat Litbang Hutan KLHK RI, serta Kepala Badan Restorasi Gambut RI Nazir Foead. ***