
GAZA – Serangan militer Israel ke Jalur Gaza, Palestina pada 6 hingga 8 Agustus 2022, menyebabkan 47 warga Palestina terbunuh, 16 di antaranya masih bocah (anak-anak).
''Selama hidup mereka yang singkat, mereka mengalami teror dan kekalahan perang demi perang, tanpa peluang masa kanak-kanak yang damai,'' kata Natasha Ghoneim dari Aljazirah, berbicara dari kamp pengungsi Jabaliya di Utara wilayah Palestina yang terkepung, seperti dikutip dari Republika.co.id.
Beberapa jam menjelang pengumuman gencatan senjata antara Israel dan kelompok Jihad Islam Palestina pada Ahad lalu, setidaknya delapan anak Palestina tewas dalam dua serangan terpisah yang hanya berselang beberapa menit.
Dua korban di antaranya adalah anak-anak kembar 13 tahun bernama Dalia dan Mohammed. Keduanya wafat bersama saudara laki-laki mereka Ahmed yang berusia sembilan tahun dan ayah mereka, Yaser Nabahin. Mereka terbunuh serangan Israel saat di rumah mereka di kamp pengungsi al-Bureij.
Sedangkan, lima lainnya berumur empat hingga 17 tahun, sebagian besar dari keluarga Najam. Mereka pergi mengunjungi makam kakek mereka di sebuah pemakaman di kamp Jabaliya, sebelum serangan pesawat tak berawak Israel menghancurkan tubuh mereka.
Ramadan Shaban juga berada di pemakaman dan mengatakan lima anak laki-laki telah melewatinya.
''Tidak ada yang terjadi di kuburan. Itu aman. Hanya beberapa detik setelah mereka lewat, saya mendengar suara drone bersenjata menghantam anak-anak. Saya melihat ke atas dan menemukan anak-anak sudah mati,'' ujarnya.***