SELATPANJANG, GORIAU.COM - Masyarakat Selatpanjang kembali menggelar ritual ghatib zaman, Kamis (4/9/2014) malam. Ritual yang juga dikenal dengan sebutan bele kampung itu sebenarnya sudah mulai menghilang sekitar 30 tahun silam.


Rituan ini digagas Forum Mahasiswa Pemuda Selatpanjang Timur yangmelanjutkan studi nya di Pekanbaru. Kegiatan bele kampung ini pula dihadiri banyak pihak.
Salah seorang imam masjid yang juga ketua kampung mengatakan kegiatan ini sudah lama tidak dilakukan. Seingatnya, lebih kurang 30 tahun sejak tahun 1984 sudah tak pernah ada Ghatib Zaman ini. Beghatib (berzikir, red) dimaksudkan untuk beribadah juga dapat menolak bala dan menjauhkansegala musibah.
"Mudah-mudahan yang muda-muda nanti mau melanjutkan adat istiadat ini," harapnya.
Dalam sambutannya, Ketua NU Kepulauan Meranti, Drs Ishak Izrai menyambut baik inisiatif mahasiswa yang terdiri dari 3 fakultas itu. Kata Ishak, tradisi ini adalah tradisi turun temurunyang harus dilestarikan.
"Sudah sepantasnya generasi muda tahu tentang kegiatan ini. Insyaallah, kita akan menjadikan kegiatan ini kegiatanrutin,kegiatan ini juga  mengingat kan kembali kepada kita bahwa ini adalahtradisi yang pernah ada diselatpanjang,dan jangan sampai dilupakan," ucapnya.
Sementara itu, ketua LAMR Kepulauan Meranti H Ridwan Hasan meminta agarmasyarakat serius dalam mengikuti prosesi adat ini.
"Selama kegiatan,kami minta semuanya hanya mengucapkan zikir dan tidak berbicara hal-hal keduniaan semua untuk mempertahankan aset budaya melayu sejak turun temurun. Ghatib bagaikan membersihkan diri, yang dilakukan dalam ritual tak menyimpang dari ajaran Islam," ucapnya.
Penjelasan tentang ritual Ghatib Zaman atau lebih di kenal dengan istilah Bele Kampung itu adalah adalah tradisi dan adat istiadat melayu Selatpanjang yang bertujuan untuk berzikir atau mengingat Allah sembari meningkatkan rasa kekompakan antar penduduk desa.
Iringan masyarakat yang berjumlah ratusan orang tersebut dimulai dari halaman mesjid Al-Mujahidin jalan Dorak. Tampah hadir Ketua NU Meranti, Ishak Izrai, Ketua LAMR Kepulauan Meranti, H Ridwan Hasan dan Kepala Bagian Hukum Setdakab Kepulauan Meranti Sudandri Jauzah SH
Selain itu, ratusan masyarakat terdiri dari laki-laki dan perempuan terlihat antusias mengikuti prosesi adat ini. Mereka berjalan kaki sembari melantunkan zikir.
Acara yang dipimpin oleh ketua kampung Sya'ari ini memulai zikir dengan berjalan kaki dari halaman mesjid Al-Mujahidin hingga berakhir di hilir Sungai Jelutung terletak dijalan lingkar Dorak yang berjarakhampir 8 KM. Tiba di Sungai Jelutung, rombongan berhenti dan membacakan doa,memohon kepada Allah agar dijauhkan dari segala marabahaya dan berharap semogapenduduk kampung senantiasa diberikan rahmat oleh Yang Maha Kuasa.***