JAKARTA – Eskalasi konflik bersenjata antara Iran dan Amerika Serikat yang berujung pada penutupan Selat Hormuz mulai mengguncang industri petrokimia tanah air. PT Chandra Asri Group resmi mengumumkan kondisi darurat atau force majeure serta memangkas tingkat produksi pabrik akibat terhentinya pasokan bahan baku dari jalur logistik global.

Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat Chandra Asri Group, Suryandi menjelaskan bahwa penutupan jalur vital di Timur Tengah tersebut sangat memengaruhi kelancaran distribusi bahan baku energi dan petrokimia dunia.

“Kami secara aktif memantau perkembangan situasi konflik yang terus berkembang dan mengambil langkah antisipatif untuk memastikan ketahanan operasional di seluruh unit bisnis,” paparnya melalui keterangan tertulis, Rabu (4/3/2026).

Sebagai langkah mitigasi, manajemen perusahaan memutuskan untuk menurunkan run rate atau tingkat operasional pabrik. Pemberitahuan status force majeure juga telah disampaikan kepada para mitra bisnis guna menyesuaikan kewajiban kontrak di tengah situasi luar biasa ini.

"Langkah ini sebagai tindakan administratif yang dilakukan secara terukur setelah mempertimbangkan potensi dampaknya terhadap pemenuhan kewajiban kepada pelanggan," sambung Suryandi.

Krisis ini bermula saat Garda Revolusi Iran (IRGC) secara resmi menutup Selat Hormuz sejak Senin (2/3/2026). Otoritas Iran bahkan mengancam akan menyerang kapal apa pun yang nekat melintasi perairan sempit antara Iran dan Oman tersebut. Padahal, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia bergantung pada jalur ini setiap harinya.

“Selat ditutup. Jika ada yang mencoba melewatinya, para pahlawan Garda Revolusi dan angkatan laut reguler akan membakar kapal-kapal itu,” tegas Penasihat Senior Panglima Tertinggi IRGC, Ebrahim Jabbari, sebagaimana dikutip dari media pemerintah.

Pihak Chandra Asri kini terus berkoordinasi intensif dengan para pelanggan untuk meminimalkan dampak buruk terhadap rantai pasok domestik. Perusahaan berkomitmen untuk tetap menjaga kesinambungan bisnis sembari mengevaluasi dinamika pasar energi global yang diprediksi akan mengalami lonjakan harga akibat terganggunya aliran minyak dunia.***