PELALAWAN – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Pelalawan, Tengku Mukhlis, M.Si., mengkhawatirkan sastra lisan Bebalam terancam punah.

Kekhawatiran ini disebabkan Bebalam sudah jarang ditampilkan oleh masyarakat Pelalawan.

''Saya khawatir Bebalam sebagai pantun khas masyarakat Petalangan, Kabupaten Pelalawan, Riau akan punah. Saya tidak tahu apakah Bebalam ini masih ada 10 tahun mendatang,'' kata Tengku Mukhlis, dalam sambutannya saat membuka acara pementasan akhir Revitalisasi Sastra Lisan Pantun Bebalam Petalangan di Kabupaten Pelalawan, Riau, di Balai Seminai, Pangkalan Kerinci, Rabu, 27 Juli 2022.

GoRiau Para siswa sedang berpantun Be
Para siswa sedang berpantun Bebalam. (Istimewa)

Bebalam merupakan pantun yang terdapat dalam nyanyian panjang masyarakat Petalangan, Kabupaten Pelalawan, Riau. Bebalam mendendangkan pantun-pantun spontan secara bersahut-sahutan oleh dua atau lebih dari khalayak. Bebalam punya gaya dan cengkok tersendiri dan itu hanya ada di Pelalawan. Jadi, Bebalam ini unik.

Sekda mengapresiasi upaya Balai Bahasa Provinsi Riau melakukan Revitalisasi Sastra Lisan Pantun Bebalam.

''Upaya ini diharapkan bisa menghidupkan kembali sastra lisan milik masyarakt Pelalawan. Untuk itu, pemerintah daerah akan memasukkan Bebalam sebagai salah satu acara saat perayaan hari ulang tahun Kabupaten Pelalawan pada bulan Oktober tahun 2022,'' ujarnya.

Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau Toha Machsum, M.Ag., dalam sambutannya mengatakan, kegiatan revitalisasi adalah bentuk kepedulian pemerintah dalam upaya pelestarian sastra lisan yang ada di daerah. Kegiatan revitaliasi Bebalam melibatkan dua orang pelatih, yaitu Mak Itam dan Kharisma.

Dua orang tersebut mengajarkan Bebalam kepada 21 siswa SMP di Kabupaten Pelalawan sejak Maret hingga Juli 2022.

Toha mengakui, upaya revitalisasi yang dilakukan Balai Bahasa Provinsi Riau adalah sekadar pemantik saja.

''Ke depan, kami mengharapkan pihak Pemda Pelalawan melakukan upaya lanjutan agar sastra lisan milik masyarakat Pelalawan ini tetap hidup di tengah masyakat pemiliknya,'' jelasnya.

Hadir juga dalam acara tersebut tokoh adat Pelalawan, yang juga Ketua Dewan Kesenian Pelalawan, Herman Maskar. Dalam pernyataannya, Herman berharap pantun Bebalam terus dihidupkan di sekolah dan acara resmi di pemerintahan.

''Saya berharap kegiatan Bebalam diteruskan di setiap sekolah. Mereka yang sudah bisa Bebalam bisa mengajarkan pada teman-temannya yang lain. Sehingga Bebalam makin memasyarakat dan dikenal kembali oleh generasi muda,'' kata Herman yang juga mampu Bebalam dengan baik.

Acara dihadiri oleh perwakilan Badan Pelindungan dan Pembinaan Bahasa, Septi Mariani, S.S., Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pelalawan, Ketua Dewan Kesenian Pelalawan, Herman Maskar, pelatih pantun Bebalam Kharisma, sejumlah kepala SMP, dan Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Kabupaten Pelalawan.

Acara revitalisasi dilakukan lima bulan, yaitu sejak Maret hingga Juli 2022. Bentuk akhir dari pelatihan adalah pementasan Bebalam oleh siswa di Balai Seminai.***rls