SELATPANJANG - Anggota Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kepulauan Meranti Azni Safri menggelar reses di Kantor Desa Alai Kecamatan Tebingtinggi Barat, Selasa (22/11/2016). Dalam reses itu, banyak membahas tentang aktivitas dan fasilitas nelayan.

Pantauan GoRiau, terlihat hadir dalam reses itu antara lain Camat Tebingtinggi Barat Rizky Hidayat SSTp MSi, Kades Alai Ruslan, Kades Mekong A Rahman S, Kabid Tangkap dan Budidaya Dinas Kelautan Perikanan (DKP) Ishak, serta ratusan masyarakat dari dua desa, Alai dan Mekong.

Saat reses Selasa malam itu, banyak membahas terkait aktivitas nelayan. Mulai dari keluhan, sampai ke fasilitas-fasilitas yang disiapkan negara dan bisa didapatkan nelayan, seperti asuransi, sertifikat tanah dan bebera lainnya.

Sementara beberapa masalah yang sempat dibahas dalam reses itu terkait angin. Dimana, pada musim-musim tertentu, kata para nelayan, mereka tidak bisa melaut. Ketika tidak bisa melaut, tentu perekonomian akan terganggu, terlebih para nelayan tidak punya mata pencarian alternatif.

Kemudian, sempat juga dikeluhkan terkait banyaknya jaring-jaring batu yang dipasang tak jauh dari bibir pantai. Menurut nelayan, dengan adanya jaring batu atau jaring kurau ini sangat mengganggu. Selain membuat hasil tangkapan menurun, jaring batu juga sering membuat rusak jaring-jaring nelayan lainnya.

Terkait masalah tidak bisa melaut ketika musim angin kencang atau air pasang besar, dijawab Politisi PDI-P itu, memang harus ada mata pencarian lain di darat. Para nelayan disarankan agar bertani saat tidak bisa melaut. Sebab, tak susah mendapatkan lahan di Desa Mekong dan Desa Alai. "Kalau tak bisa melaut, mari kita lari ke darat. Lahan tidur masih banyak, olah dan bertani lah," kata Azni Safri.

Ditambahkan Camat Rizky Hidayat, selain daripada bertani, menghidupkan koperasi nelayan dianggap sebagai solusi ketika tidak bisa melaut. Dana yang ada di koperasi menurut Rizki, bisa digunakan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari nelayan, dan harus dibayar ketika sudah ada hasil tangkapan.

"Kalau angin ini kan keadaan alam yang tidak bisa kita elakkan. Untuk itu, kami fikir koperasi inilah yang bisa menutupi kebutuhan," tambah Rizki.

Mendengar saran dari Camat Rizki, Azni Safri kembali menanggapi. Kata laki-laki yang akrab dipanggil Utih Zeni itu, keberadaan koperasi sulit untuk berjalan maksimal. Ia mempunyai pengalaman dengan koperasi nelayan ini.

Diceritakan Azni Safri, satu tahun yang lalu, di Desa Mekong sudah didirikan koperasi nelayan. Koperasi itu sama sekali tidak berjalan mulus karena terbentur pada simpanan pokok dan simpanan wajib. Azni mengatakan, kesadaran masyarakat nelayan untuk membayar simpanan pokok dan wajib itu masih sangat rendah.

"Sudah lebih satu tahun kami bentuk koperasi di Desa Mekong tapi tidak berjalan. Kita harap juga masyarakat punya kesadaran, supaya koperasi itu berjalan sebagaimana diharapkan. Tentu, tak terlepas dari masalah simpanan pokok dan simpanan wajib tadi," ungkap Azni Safri.

Ketua Koperasi Nelayan Desa Mekong Saijul Tuti mengatakan hal yang sama. Kata Saijul Tuti, koperasi itu hanya berjalan sekitar 3 bulan saja, setelah itu pembukuan tidak bisa dilakukan sama sekali. Memang simpanan pokok dan wajib dari nelayan tidak berjalan sebagaimana mestinya. "Pembukuan hanya sekitar 3 atau 4 bulan saja. Setelah itu tidak lagi," kata Saijul Tuti. ***