
PEKANBARU, GORIAU.COM - Lantaran tak kunjung usainya bencana asap di Riau, CEO Fire Terminator, Juda Jai, akhirnya memberikan sumbangan 2.000 cairan pemusnah api secara sukarela kepada Satgas Penanggulangan Kebakaran Lahan dan Hutan (Karlahut) Riau. Ia mengkalim, cairan ampuh miliknya akan mampu menuntaskan permasalahan Karlahut yang terjadi berkepanjangan di Riau.
Managing Director Fire Terminator, Juda Jai kepada GoRiau.com, Kamis (22/10/2015) mengatakan, dirinya prihatin melihat perjuangan anak-anak Riau yang setiap hari harus terpapar asap berbahaya. Tak perlu memikirkan keuntungan, dia pun datang ke Pekanbaru untuk menyumbangkan cairan andalannya.
"Di Medan (cairan) ini kami jual, untuk disini (Riau) kami tidak fikirkan uang. Ini sisi human, ingin menolong," ungkap Judah usai demo pemakaian cairan fire terminator miliknya, Kamis (22/10/2015) siang, di Pangkalan Udara TNI AU, Roesmin Nurjadin.
Cara pemakaianya cairan biru ini juga praktis, dengan dioplos bersama air, sesuai takaran dan besarnya api. Normalnya 1 liter cairan miliknya dicampur untuk 100 liter air. Satu jerigen cairan dapat digunakan untuk satu tangki. Cairan ini dapat menangkap gas metan yang menyebabkan api cepat membakar.
Cairan ini pun dikatakannya ramah lingkungan dan telah mendapat sertifikat Uni Eropa. Junda mengklaim cairannya berbuat dari bahan herbal. "God Bless, di Indonesia bisa di dapat bahan-bahannya. Kita pakai herbal, non chemical," ungkapnya.
Dirinya menceritakan bahwa mendapat kesempatan untuk memberikan bantuan cairan ini melalui temannya yaitu Jenderal Agus Suprianta yang berada di TNI AU, serta melalui Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau).
Sementara itu, M. Zuhnir P dari Litbang Dinas Penelitian dan Pengembagan TNI AU Bandung, menyebutkan, dirinya akan mengkaji dan melaporkan hasilnya kepada Mabes AU. "Setelah kami menyaksikan demo pemakaiannya, akan kami kaji dan sampaikan hasilnya ke Mabes AU," tuturnya.
Sebanyak 2.000 liter cairan disumbangkan untuk Provinsi Riau yang ditafsir setara U$7 Dollar per liternya atau seharga Rp70.000 per liternya. Pabrik produk ini berada di Singapura. Juda menceritakan produknya ini menghabiskan waktu riset 30 tahun, dan sudah sukses lima tahun yang belakangan. Namun ia baru memproduksi massal pada dua tahun yang ini. (Rat)