TELUKKUANTAN – Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau menyatakan telah melakukan investigasi terhadap kasus bocah kehilangan penis saat sunat massal di Klinik Harapan Bunda, Desa Pesikaian, Kecamatan Cerenti.

Andi Syamsul, Ketua PPNI Kuansing, mengatakan investigasi dilakukan oleh Komisariat 5 yang membawahi wilayah Kecamatan Inuman, Cerenti dan Kuantan Hilir.

"Hasilnya, ternyata kejadian tersebut dilaksanakan oleh rekan perawat dari Kabupaten Indragiri Hulu," ujar Andi menegaskan bahwa perawat berasal dari Kabupaten Inhu, Senin (26/12/2022) sore di Telukkuantan.

"Saya langsung berkoordinasi dengan Ketua PPNI Inhu, alhamdullah direspons dengan cepat laporan hasil investigasi," ujar Andi Syamsul.

Karena perawat tersebut merupakan anggota PPNI Inhu, lanjut Andi Syamsul, maka kewenangan pembinaan ada di PPNI Inhu.

"Perihak tindakan apa yang akan dilakukan pada perawat tersebut, itu menjadi kewenangan DPD PPNI Kabupaten Inhu," kata Andi Syamsul.

Mengenai dugaan malpraktik dalam kegiatan sunat massal tersebut, Andi Syamsul enggan untuk berkomentar. Dalam keterangan tertulisnya, ia hanya menyatakan pihak klinik sudah punya tim pada kegiatan tersebut.

"Artinya, kegiatan ini tidak semata-mata dilaksanakan oleh seorang perawat saja, dan sudah baranh tentu secara pertanggungjawaban bukan saja oleh perawat," ujar Andi Syamsul. Ia bersyukur pihak klinik bertanggungjawab atas insiden itu dan kedua belah pihak sudah damai.

Hanya itu saja hasil investigasi yang disampaikan PPNI Kuansing. Ketika ditanyakan mengenai pendelegasian secara tertulis, termasuk sanksi atas perawat anggota PPNI Kuansing, Andi Syamsul tidak merespons.

Untuk diketahui, sunat ini dilakukan dengan metode cauter. Pasca kasus ini viral, muncul pelbagai spekulasi tentang kondisi psikis sang perawat saat sunat massal. Ada yang berspekulasi sang perawat dalam kondisi mabuk.

Spekulasi tersebut juga ditanyakan kepada Andi Syamsul, namun ia tak memberikan tanggapan hingga berita ini diterbitkan.***