BAGIAN manakah dalam Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak 2019 yang bisa dibanggakan? Hajatan, hanya berisi soal-soal teknis politis, korban berjatuhan dan identity war hingga rakyat pun perlahan turun gunung.

Siapa tak dengar adanya kematian massal yang fenomenal? Ratusan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di berbagai tanah negeri, tewas dengan belasan dalil medis. Dalil, yang memantik pertanyaan 'kenapa diterima bertugas puluhan jam sistem geber?'.

Sebutlah, infarct myocard, gagal jantung, koma hepatikum, stroke, respiratory failure, hipertensi emergency, meningitis, sepsis, asma, diabetes melitus, gagal ginjal, TBC, dan kegagalan multi organ. Berapa yang akrab di telinga? Dan mana yang layak mengiringi tugas berat berhonor ratusan ribu?

Dari situ, Pemilu yang mestinya jadi ajang tabur dan tebar gembira segenap warga negara, berubah 'gloomy' penuh duka cita.

Ads
Aspek teknis helatan pesta demokrasi yang mestinya berjalan jujur dan adil pun, terinsinuasi sarat guratan politis dan membentuk sketsa yang jauh dari aman dan damai menuju anarkistis.

Rakyat dibuat bingung dan skeptis setelah melihat rekapitulasi sementara KPU yang dirilis dalam aplikasi daring sistem perhitungan (Situng) KPU RI, ratusan meter dari bundaran HI. Pasalnya, data yang bergerak dinamis itu dinilai jauh panggang dari api.

Dalilnya, setiap kubu yang berkontestasi telah lebih dulu mengoleksi data formulir C1 dari setiap TPS seluruh wilayah Indonesia. Dan sajian Situng, jauh dari persis. Menurut Tim BPN Prabowo-Sandi, ada 25 juta data keliru di kepompong yang kupu-kupunya akan keluar 22 Mei nanti, bertepatan dengan 17 Ramadhan 1440 H dan hari bersejarah PKI, menurut salah satu literasi.

Tak pelak, tensi terus meninggi mendorong hati dan raga rakyat menggelinding turun gunung, menuntut transparansi agar Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia terpilih memang wajah yang jadi representasi putih demokrasi.

Api semangat pendukung pun terus dipantik di medan politik. Bukan satu, tokoh bangsa menghembuskan gas dari lisannya yang penuh kehormatan, hingga rakyat makin tegang. Iya, tegang.

Indonesia ku, kita telah memilih nahkoda untuk pelayaran nusantara hingga 2024. Dia yang terpilih semoga bisa merekatkan kembali berai bhineka; mempersatukan semua kekuatan untuk menyelamatkan nasib ratusan juta rakyat Indonesia.

Jangan ada lagi demokrasi tereduksi! Jangan ada lagi persatuan terkoyak! Identitas suku dan agama tak perlu lagi jadi dalil pertentangan. Depresi ekonomi juga jangan jadi alasan untuk makin tak peduli.

Karena, Islam dan NKRI bukanlah sesuatu yang perlu dipertentangkan, melainkan harus menjadi kekuatan utama bagi bangsa Indonesia. Penulis: Adista Pattisahusiwa/Aktivis dan Anggota Forum Wartawan Muslim Indonesia. (FWMI)