
PUNCAK acara Pacu Jalur Kuansing akan berlangsung jelang akhir Agustus mendatang. Tak seperti tahun sebelumnya, kali ini panitia tampak ingin menyiapkan perlengkapan acara semaksimal mungkin.
Maklum, sejak adegan meliuk-liuk di atas perahu lomba yang diperankan bocah Rayyan Arkan Dikha banyak ditiru para selebritis dunia, status pacu jalur di Sungai Indragiri, Kuantan Singingi, Riau, ini pun langsung terdongkrak naik.
Orang-orang dari mancanegara memperbincangkannya. Sebagian diantaranya bahkan sudah menyatakan akan hadir dalam acara tradisi tersebut.
Sambutan yang sangat positif dari penjuru dunia tersebut, tentu saja membuat Gubernur Riau dan Bupati Kuantan Singingi menjadi lebih keras mempersiapkan diri. Jangan sampai sambutan dan pelayanan yang kurang baik akan membuat pengunjung menjadi kecewa.
Persiapan yang dilakukan boleh jadi sudah demikian maksimal. Baik mengenai kelancaran acara maupun akomodasi para pengunjung nanti.
Namun, ada satu yang agak mengganjal. Sungai Indragiri yang mengalir mulai dari hulu di Provinsi Sumatera Barat, itu selama ini digunakan masyarakat sebagai sumber matapencaharian. Tak hanya sebagai nelayan penangkap ikan. Kini di sepanjang aliran sungai juga bermunculan para penambang emas tanpa izin (PETI).
Hal inilah yang menimbulkan kecemasan. Meskipun masih diselenggarakan secara tradisional, namun kegiatannya tampak semrawut dan tak sesuai dengan kelestarian lingkungan. Apalagi untuk pertambangan tersebut dipakai pula zat kimia yang berbahaya.
Pemerintah tentu melarang beroperasinya tambang emas lokal tersebut. Tapi, kelihatan agak sulit untuk menertibkannya. Apalagi sebelum acara Pacu Jalur mendunia pun mereka sudah menambang di sana.
Kendati telah dilakukan penertiban berulang-ulang, namun kegiatan penambangan masih terus berlangsung. Maklum, meskipun dikerjakan warga setempat, tapi diperkirakan ada cukong di belakangnya.
Tapi, kali ini aparat pemerintah di Riau nampaknya lebih serius lagi. Gubernur Riau, Abdul Wahid, bersama Kapolda Riau, Irjen Herry Heryawan, dan Bupati Kuansing, Suhardiman Amby, Kamis 31 Juli ini melakukan pemasangan plang imbauan larangan penambangan ilegal di kawasan tersebut.
Upaya ini pantas diacungi jempol. Demi suksesnya acara Pacu Jalur, kawasan yang dikenal sebagai Tepian Narosa ini harus benar-benar bersih. Khususnya dari pencemaran bahan kimia pertambangan.
Bupati Suhardiman pun telah mengimbau agar para penambang ini pindah ke lokasi penambangan rakyat yang sudah ditentukan pemerintah setempat.
Namun, sudah menjadi cibiran di warga setempat upaya penertiban tersebut hanya 'hangat-hangat tahi ayam' saja. Tak lama setelah ditertibkan mereka akan kembali lagi beroperasi.
Kebandelan para penambangan emas liar ini terkesan sudah terorganisir seperti sebuah sindikat. Bahkan, jauh di hulu, di Sumatera Barat, sampai ada polisi yang nekat menembak mati atasannya akibat menolak dilakukan penertiban di tambang emas amatir tersebut.
Kita berharap semoga di Tepian Narosa ini para penambang rakyat bisa lebih tertib lagi. Sebab, kawasan tersebut kini telah menjadi perhatian internasional. Bila pemerintah dan warga setempat dapat mengelolanya dengan baik, siapa tahu Tepian Narosa akan dapat menjadi tujuan wisata lokal, nasional, maupun mancanegara. Jika hal ini bisa tercapai, bayang-bayang kemakmuran pun akan semakin menghampiri warga setempat. Semoga. ***
* Irwan E. Siregar adalah wartawan senior bermastautin di Pekanbaru, Riau.