PEKANBARU - Sebagai orang yang memiliki kebutuhan khusus seperti halnya penyandang tuna rungu, sangatlah diperlukan adanya tenaga pelatih bahasa isyarat. Mirisnya ternyata di Provinsi Riau masih kekurangan tenaga pelatih bahasa isyarat.

"Di Riau belum ada tenaga pelatih bahasa isyarat tuna rungu. Ada satu dan itupun masih baru di Pekanbaru, Fatma Namanya," ungkap Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Gerakan Untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin) Aprizar Zakaria kepada GoRiau.com, Selasa (17/11/2015).


Kondisi ini sangat memprihatinkan dan patut menjadi perhatian pemerintah khususnya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau. Ketika seseorang tuna rungu sedang dalam kondisi terdesak atau parahnya lagi dalam situasi berbahaya, ia tidak bisa berkomunikasi dengan orang normal dikarenakan satu sama lain tidak mengerti bahasa isyarat.


"Bayangkan saja, jika ada posisi yang mendesak bagaimana cara kami berkomunikasi dan bagaimana cara mereka (orang normal) memahami kami," ucap Aprizar dengan bahasa isyarat dibantu oleh seorang penerjemah bahasa isyarat Bias Safir dari Kota Solo, Jawa Tengah.


Untuk saat ini, jumlah penyandang tuna rungu di Pekanbaru diperkirakan kurang lebih dua ratus orang. Dengan jumlah sebanyak itu, tenaga pelatih bahasa isyarat masih jarang ditemukan.


Dengan diadakannya kongres nasional Gerkatin IX tahun 2015 di Pekanbaru, Jumat lalu (13/11/2015) yang dibuka langsung oleh Kepala Dinas Sosial Provinsi Riau Syarifuddin diharapkan dapat mengangkat jati diri dan identitas keberadaan tuna rungu yang ada di Riau.


"Lewat kongres nasional Gerkatin IX di Pekanbaru, semoga rekan-rekan Gerkatin yang ada di Riau mendapat perhatian dari pemerintah setempat," tutupnya. ***