
SELATPANJANG - SMA N 2 Tebingtinggi merasa dicurangi saat mengikuti Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat kabupaten di Selatpanjang. Pasalnya, dewan juri memenangkan peserta yang sebelumnya sudah dikalahkan pada seleksi tingkat kecamatan.
Kekecewaan itu disampaikan Sari Dewi, guru pendamping dan pembina sanggar Smanda (SMA N 2) ketika ditemui awak media, Kamis (26/4/2018).
"Yang ingin kita protes, panitianya dan juri yang terkesan tidak konsisten," kata Dewi.
Mereka memprotes keputusan juri yang terkesan curang. Bagaimana tidak, peserta tari yang dimenangkan saat itu (SMA N 1), sebelumnya sudah kalah pada seleksi tingkat kecamatan, Maret 2018.
Diceritakan Dewi, pada seleksi FLS2N tingkat kecamatan di Tebingtinggi, diikuti 4 sekolah. Yaitu SMA N 1, SMA N 2, SMA N 3, dan Kalam Kudus. Saat itu, SMA N 2 keluar sebagai pemenang setelah mengalahkan 3 sekolah lainnya.
"SMA N 2 mewakili Kecamatan Tebingtinggi karea Juara 1 saat seleksi tingkat kecamatan," kata Dewi.
Namun, beberapa hari sebelum pelaksanaan FLS2N tingkat kabupaten, pelatihan dan anak didik Sanggar Smanda mendengar kabar bahwa SMA N 1 kembali akan turun bertanding. Mereka sempat panik, sebab SMA N 1 telah kalah di tingkat kecamatan.
"Saya bilang ke anak-anak, tunggu saya pulang untuk mengkonfirmasi informasi tersebut," cerita Dewi.
Belum sempat dikonfirmasi, Dewi mengaku tiba-tiba ditelepon Salman.
Saat itu terjadi percakapan seputar protesnya kalau sampai SMA N 1 kembali turun bertanding tingkat kabupaten.
Dijawab Salman, itu hanya untuk memenuhi kuota provinsi, harus ada 15 pasang tarian. Salman mengaku bingun untuk mencukupi kuota, sementara beberapa sekolah yang katanya sudah ditawari, menolak.
Saat itu Salman juga menawarkan Dewi, seandainya mau membawa peserta lebih dari satu. Namun ditolak Dewi.
Rupanya, saat bertanding, SMA N 1 turun untuk mewakili Tasikputri Puyu. Pertandingan saat itu ada 5 peserta.
Saat pengumuman juara, juri menyampaikan bahwa juara 1 jatuh pada peserta undian 8 dari Tasikputri Puyu.
Keputusan ini sontak membuat Dewi kaget. Bagaimana tidak, pemenang tingkat kabupaten adalah peserta yang dikalahkan pada saat seleksi di tingkat kecamatan.
"Saya protes, saya bertanya ke juri, apa maksudnya memenangkan undian 8, sedangkan mereka sudah kami kalahkan di tingkat kecamatan kemarin. Tarian sama, tema sama, dan penari nya pun sama," ujar Dewi dengan nada kesal.
Saat itu, Dewan Juri menilai tema tarian dari sanggar Samdan salah, tema tak sesuai. Waktu seleksi di tingkat kecamatan, tidak ada disinggung tentang tema, padahal juri yang sama.
"Kami bukan mau juara. Kami tak akan protes kalau yang menang itu Tanjungsamak, atau Tebingtinggi Timur. Mereka (yang menang, red) kan cuma mengisi kuota kosong, karena memang sebelumnya sudah kalah," kata Dewi lagi.
Merasa dicurangi dewan juri, Smanda akan mengembalikan penghargaan yang diterima, berupa uang pembinaan Rp200 ribu, sertifikat, dan medali. Smanda merasa tak pantas, sebab dikalahkan oleh orang yang telah mereka kalahkan di tingkat kecamatan.
Sementara itu, Almandra selaku Waka Kurikulum mengaku anak-anak mengalami drop atas kejadian tersebut. Pembina pun merasakan kegalauan ketika memberi tugas yang akan datang.
"Ini yang harus kami antisipasi, jangan sampai anak-anak merasa kecewa dan semangatnya berkurang," kata Almandra
Dijelaskan Amnadra, SMA N 2 tidak pernah mengkarbit anak-anak yang muncul di semua pertandingan. Yang mereka kirim adalah anak-anak yang sudah dibina secara kontiniu.