PEKANBARU, GORIAU.COM - Menkokesra Agung Laksanono direncanakan akan menjadi orang pertama yang langsung mengambil api PON XVIII dari sumber api alam sumur minyak Minas yang dikelola PT Chevron Pacific Indonesia (CPI). Pengambilan api PON tersebut mempergunakan galah panjang terbuat dari besi, karena sumber api terletak di atas tower setinggi 5 meter.

Hal ini terungkap dalam Gladi Kotor Pengambilan api PON yang digelar Senin (27/8) di Sumur Minyak Pertama Minas, kabupaten Bengkalis. Kegiatan gladi kotor yang diikuti seluruh panitia yang terlibat acara pengambilan api PON ini dipimpin Koordinator API PON XVIII, Marwan.

Pengambilan api PON ini sendiri akan digelar 6 September mendatang. Sebelum api POn disulut, terlebih dahulu dibacakan riwayat lapangan Minas yang bulan Februari 2007 telah memproduksi minyak sebesar 4,5 juta barel. Sumur ini punya kedalam 800 meter.

Marwan mengatakan, api PON ini sengaja diambil dari sumur minyak tertua di Minas karena lapangan ini punya arti sangat penting bagi Riau. Lapangan minyak Minas dari dulu hingga sekarang masih menjadi sumber devisa negara dan memberikan kesejahteraan kepada masyarakat Riau.

Dalam skenarionya, api PON tersebut setelah diambil Menkokesra lalu diserahkan kepada pasukan pembawa api PON dengan disaksikan Menpora Andi Malaranggeng, Gubernur Riau Rusli Zainal, Ketua KONI Pusat, Ketua DPRD Riau, ketua DPRD Kabupaten Siak, dan para bupati se-Riau.

Api kemudian diarak menuju Lapangan Sepakbola Minas untuk diserahkan kepada para bupati/walikota se-Riau guna dibawa ke daerahnya masing-masing. Prosesi penyerahan api PON ini akan diwarnai berbagai atraksi seperti marching band, dan sebagainya.

Disela-sela gladi kotor itu, Marwan menjelaskan bahwa pejabat yang akan mengambil api PON langsung dari sumur minyak tersebut belum bisa dipastikan Menkokesra. "Seandainya Meskokesra tidak hadir, maka yang akan mengambil api adalah Menpora," ungkapnya.

Namun menurut dia, jika kedua menteri tersebut hadir, maka yang akan melakukan pengambilan api PON adalah Menkokesra. Sedangkan Menpora bersama para pejabat lainnya hanya mendampinginya. ''Untuk memastikannya, kita memang perlu menyesuaikan jadwal kedua menteri,'' tambah Marwan. (rls)