SELATPANJANG, GORIAU.COM - Selaku wilayah pesisir di pulau terluar Indonesia, Kepulauan Meranti menghadapi masalah serius yaitu abrasi pantai. Untuk Pulau Rangsang abrasi mencapai 20 sampai 30 meter pertahunnya.


Kondisi ini sangat mengancam pulau yang menjadi penyangga antara Meranti Ibukota (Selatpanjang, red) dengan laut luas Selat Melaka.
Menurut Jumadi, salah seorang warga Tanjung Bakau, Jumat (24/4/2015) abrasi terus saja mengancam tempat tinggalnya dan beberapa daerah pesisir di Pulau Rangsang itu. Mereka hanya bisa menyaksikan tebing-tebing runtuh tatkala ombak dari laut lepas menghantam.
"Minimal 10 meter. Tapi rata-rata 20 sampai 30 meter tebing kami tercebur ke laut setiap tahunnya," kata Jumadi.
Disayangkan Jumadi, sampai saat ini tidak ada tanda-tanda pemerintah pusat akan membangun tanggul agar tebing itu tidak runtuh setiap tahunnya. Indonesia sangat berbeda dengan daerah luar, dimana daerah luar itu menciptakan pulau-pulau baru dari wilayah perairan. Sementara di Indonesia pulau menjadi laut (akibat abrasi, red).
"Sudah ratusan hektar kebun kelapa milik warga menjadi laut. Sampai saat ini, jarak antara tebing ke tobei (kaki laut yang tidak lagi mengalami surut, red) sudah hampir 1 KM. Ini sesuatu yang sangat mengancam bagi kehidupan warga kami dan warga-warga di pesisir," tambahnya lagi.
Setidaknya beberapa wilayah yang kerap terjadi abrasi saat musim angin selatan dan timur itu antara lain, terhitung mulai Tanjungbakau, Tanjungkedabu, Ladangkecil, Telesung, dan beberapa daerah setempat di Pulau Rangsang itu.
"Kami warga pesisir ini minta tolong betul Pemerintah Pusat harus cepat tanggap, agar kami masih terlihat di NKRI. Kami takut nantinya pulau yang kami tempati ini menjadi laut," tambahnya lagi.
Dapat disampaikan pula, untuk Kepulauan Meranti, Abrasi terjadi di semua pulau. Tidak hanya di Pulau Rangsang, tetapi juga di Pulau Merbau dan Pulau Tebingtinggi.(zal)