
PEKANBARU, GORIAU.COM - Dari seluruh lahan perkebunan kelapa sawit di Riau, 60 persennya dikuasai oleh masyarakat, sementara sisanya digarap oleh perusahaan. Namun meski demikian, produk yang dihasilkan oleh masyarakat masih terbilang rendah dan jauh dari yang diharapkan.
Dimana berdasarkan datanya, masyarakat hanya mampu menghasilkan 0,5 ton per hektar per bulan, atau paling tinggi 11,4 ton per hektar per tahunnya. Jauh rendah dengan apa yang dihasilkan oleh perusahaan perkebunan.
Dimana perusahaan bisa menghasilkan 2 ton per hektar per bulan. Masalah pengetahuan akan mengelola perkebunan kelapa sawit menjadi kendala utama bagi para petani swadaya untuk menghasilkan di saat panen.
"Ada beberapa faktor yang mendasar dalam menghasilkan sawit yang berkualitas. Mulai dari bibit, pupuk, pemeliharaan, cara panen hingga lembaga atau koperasi," kata Kepala Dinas Perkebunan Riau, Zulher kepada GoRiau.com, Senin (12/1/2015).
Selama ini, masyarakat lebih suka menggunakan bibit sawit yang asli atau palsu. Sehingga sudah dipastikan produk yang dihasilkan tidak berkualitas. "Sementara perusahaan lebih memilih bibit yang bagus," tandasnya.
Begitu juga faktor lainnya, kata Zulher, banyak aspek yang tidak diperhatikan oleh para petani swadaya. "Pupuk yang tidak standar, pemeliharaan yang tidak beraturan hingga masa panen yang tidak sesuai dengan waktunya," tutur Zulher.
"Kita sudah berulang kali melakukan sosialisasi kepada masyarakat, namun harga murah masih menjadi pilihan utama bagi para petani sawit," pungkasnya.
"Terutama soal bibit. Bibit sawit menentukan 50 persen keberhasilan produk yang dihasilkan," smabungnya.***