PEKANBARU, GORIAU.COM - Buku ''Merakyat tak Dapat Dibuat-buat'' yang ditulis Bagus Santoso, Ketua Komisi D DPRD Provinsi Riau, resmi diluncurkan, di Hotel Pangeran, Jl Sudirman, Pekanbaru, Senin (7/4/2014). Dari bedah buku, apa yang dituliskan Bagus Santoso dalam buku itu, mendapat apresiasi dari para pemimpin media maupun akademisi.

Pada sesi bedah buku, tampil sebagai pembicara Ketua SerikatPerusahaan Pers (SPS) Cabang Riau, DR H Syafriadi, Pemimpin RedaksiTribun Pekanbaru, RHR Dodi Sarjana dan Wakil Dekan Fakultas PertanianUniversitas Riau, Mardiansyah.Sebelum sesi bedah buku, diawali sambutan dari pengusun, Kasri Jumiat.

Kemudian dilanjutkan oleh Bagus Santoso selaku penulis. Dalamsambutannya, Bagus sedikit menceritakan masa lalunya yang sempat bertungkus lumus menjadi loper, wartawan, baru kemudian terjun ke dunia politik.

Buku 'Merakyat tak Dapat Dibuat-buat' ini adalah buku keduanya.Sementara buku pertamanya 'Menantang Elite Parpol sudah launching lima tahun lalu'. Dalam tahun ini juga ditargetkan segera lauching dua buku lagi yang kini dalam proses penggarapan.

''Walaupun sekarang sudah tidak menjadi wartawan lagi, dunia tulismenulis tidak bisa saya tinggalkan. Sebab dengan menulis, bisa membuka komunikasi-komunikasi yang tersumbat di tengah masyarakat,'' ujar Bagus.

Sementara saat sesi bedah buku, pujian dan apresiasi mengalir selamadiskusi berlangsung sekitar dua jam. Seperti diungkapkan Ketua SPSCabang Riau, DR H Syafriadi yang cukup detail mengupas tulisan demitulisan yang terdapat dalam buku tersebut.

Menurut Syafriadi, terbitnya buku ini sebagai buah kegelisahanintelektual dari seorang Bagus Santoso. Namun goresannya mampudiuraikan dengan apik. Sehingga pihak-pihak yang menjadi objekkritikan tidak merasa tersakiti."Apa yang ia tulis, berangkat dari kegelisahan yang ia temukan dilapangan. Komunikasi- komunikasi yang tersumbat, mampu diuraikandengan baik lewat tulisan-tulisannya,  baik soal sosial masyarakat,politik maupun pemerintahan," ujarnya.

Pemimpin Redaksi Tribun Pekanbaru, RHR Dodi Sarjana juga memberipujian serupa. Bagus yang berangkat dari loper koran, kemudian menjadiwartawan hingga akhirnya menjadi politisi, itu bukan sebuah kebetulan,tapi hasil dari buah perjuangan."Kita patut memberi apresiasi atas perjuangan hidup yang dilalui olehseorang Bagus Santoso hingga akhirnya menjadi politisi dan duduksebagai wakil rakyat. Apa yang didapat hari ini, tentu bukan sebuahkebetulan, tapi buah dari perjuangan," ujarnya.

Dodi juga mengibaratkan seorang Bagus seperti tokoh perwayanganBambang Sumantri dan Kresna, yang rela meninggalkan kampung halamandan keluarganya untuk sebuah perjuangan dan pembangunan. "Semoga bisa menjadi inspirasi kita semua," katanya.

Menulis memang hobi Bagus Santoso sejak kecil. Walaupun sekarang sudahdisibukkan dengan urusan pemerintahan sebagai wakil rakyat dan politisi, menulis tetap tidak bisa ditinggalkannya.

Sebelum menjadi anggota DPRD Provinsi Riau periode 2009-2014, Bagus Santoso sudah menjadi wakil rakyat di DPRD Kabupaten Bengkalis dalam rentang waktu 2004-2009. Sebelumnya sempat menjadi wartawan dan loperkoran. (rls)