PEKANBARU - Sekitar 22 wartawan media cetak dan online dari Provinsi Riau, Sumatera Utara, Jambi dan Jakarta pada Selasa (5/12/2017), diajak bertandang ke Wee Kim Wee School Universitas Nanyang Technological, Singapura. Di sana mereka dipaparkan soal perkembangan media dunia saat ini.

Kegiatan RGE (Royal Golden Eagle) Journalism Workshop 2017 di Singapura ini digelar 4 hingga tanggal 8 Desember 2017, di mana tiap harinya wartawan disajikan materi berbeda-beda. Dihari pertama, para jurnalis diboyong ke Wee Kim Wee Nanyang Technological University, untuk mendapat materi menyoal perkembangan tren media dan iklan.

Kevin Anderson, trainer and konsultan media yang juga mantan jurnalis BBC online pertama yang berbasis di luar Inggris, menjadi pemateri yang didatangkan oleh RGE Journalism Workshop 2017. Ia memaparkan persaingan media cetak dan online saat ini kian besar. Kevin punya banyak data-data seputar itu, termasuk perkembangan digital media di dunia.

Perkembangan digital yang pesat setidaknya juga berpengaruh pada pendapatan perusahaan media cetak, di mana sudah banyak direduksi oleh media berbasis online. Fenomena tersebut sebetulnya juga berimbas dan tengah terjadi di Indonesia. Bukan tidak sedikit media cetak yang akhirnya berhenti beroperasi, atau beralih menjadi media online.

Ads
Pria yang 20 tahun berprofesi sebagai jurnalis itu melanjutkan, 2017 juga tahun peningkatan pendapatan bagi media sosial. Bukan tanpa alasan, di Indonesia misalnya, remaja 17 tahun hingga dewasa sudah biasa berkutat di Media Sosial untuk sarana komunikasi, informasi dan sebagainya. Itu sedikit banyaknya juga membawa pengaruh pada media online.

"Artinya, bahwa tahun 2017 adalah tahun keemasan bagi media online dan iklan di media itu. Ke depan akan menjadi ruang pasar yang cukup besar untuk berkembangnya.Namun begitu, hal negatif yang muncul adalah meningkatnya berita-berita hoax alias bohong, dan ini harus dihindari," tutur Kevin.

Bahkan dalam paparannya, revolusi transformasi digital terus meningkat selama satu dekade perjalanannya. Di 2006, digital hanya berada dalam angka 14 persen dan cetak 86 persen. Sementara di 2017, digital meningkat tajam hingga 81 persen, dan cetak turun sampai ke angka 19 persen.

Terpisah, Deputy Head, External Affairs RGE Pte Ltd Felicia Tang menyebutkan, pihaknya memang sengaja mengundang perwakilan media, untuk memberikan gambaran perkembangan media digital di dunia saat ini. Sebetulnya bukan kali ini saja RGE membuat program serupa, karena tahun-tahun sebelumnya juga telah diselenggarakan.

"Selain itu, workshop ini juga tidak hanya untuk membekali jurnalis (Media, red) dengan materi dan pemahaman saja, melainkan juga untuk membuka kesempatan membina hubungan dengan kami (RGE) yang memiliki kelompok bisnis berbeda-beda," terangnya.

Buktinya, 22 jurnalis yang diboyong ke Singapura tersebut berasal dari sejumlah daerah di Indonesia, diantaranya Jakarta, Medan, Jambi dan tentu saja Provinsi Riau, di mana ada PT Riau Pulp And Paper (RAPP) , perusahaan Pulp dan kertas yang berada di Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan, Riau, juga salah satu dari unit bisnis RGE.

Bahkan lebih lengkapnya lagi, RGE Journalism Workshop 2017 dihari pertama ini juga mengupas platforms media sosial paling aktif digunakan di Indonesia, di mana sesuai data periode Januari, Youtube tercatat paling banyak dengan angka hingga 49 persen, disusul Facebook 48 persen dan Instagram 39 persen. ***