SIAK - Besarnya penurunan mutu ekosistem akibat kebakaran hutan yang terjadi beberapa tahun belakangan di Kabupaten Siak, membuat kelompok Konsorsium Mitra Insani berupaya mendukung pemulihan di kawasan Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) Sungai Siak Sungai Kampar sejak tahun 2017.

Konsorsium Mitra Insani yang terdiri dari Yayasan Mitra Insani (YMI), Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Riau, dan Jaringan Masyarakat Gambut Riau (JMGR) melakukan tiga pendekatan dalam pemulihan di Kawasan KHG dengan membasahi kembali lahan gambut, menanami kembali lahan bekas terbakar, serta mendorong pengelolaan lahan gambut melalui aktifitas peningkatan ekonomi aleternatif bagi masyarakat tempatan.

Melalui dukungan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) UK Climate Change Unit (UKCCU) dan Indonesian Climate change Trust Fund (ICCTF) tiga pendekatan tersebut telah dilakukan di 10 desa yang terbagi dalam dua kabupaten yaitu Siak dan Palalawan.

Di Kabupaten Pelalawan terdiri dari 5 desa diantaranya Desa Segamai, Desa Serapung, Desa Pulau Muda, Desa Gambut Mutiara, sedangkan untuk Kabupaten Siak berada di Desa Teluk Lanus, Desa Penyengat, Desa Rawa Mekar Jaya, Desa Sungai Rawa, Desa Lalang dan Desa Tanjung Kuras.

Direktur Konsorsium YM, Muslim, menuturkan beberapa hasil yang telah dicapai seperti pembangunan 40 unit sekat kanal, penanaman tanaman hutan, pembangunan sumur bor, dan pengembangan pertanian tanpa dibakar telah dilakukan.

"Program tersebut merupakan aksi pemulihan lahan gambut KHG Sungai Siak Sungai Kampar sudah terlaksana, tinggal diteruskan pemeliharaannya oleh desa," kata Muslim.

Tidak hanya itu, dalam program tersebut YMI juga membangun menara pantau api setinggi 21 meter yang terdapat di dua desa yaitu desa Rawa Mekar Jaya Kecamatan Sengai Apit, Kabupaten Siak dan Desa Pulau Muda Kabupaten Palalawan dengan tujuan mempermudah masyarakat memantau titik api dari kejauhan.

Menurut Pembina Lingkungan Masyarakat Peduli Api (MPA) Sutriono yang berada di Desa Rawa Mekar Sari membenarkan kehadiran menara api sangat membantu tim satuan tugas (satgas) dan MPA dalam memastikan titik api di desa tersebut.

"Jika kemarin ada titik api kami meraba-raba dimana titik api, namun sekarang tidak lagi, dengan menara pantau kami sudah bisa melihat di mana terjadi kebakaran, sebab tanpa menggunakan tropong jarak pantau dari atas menara sampai 5 KM," kata Sutriono. ***