SELATPANJANG - Komunitas Azimat Melayu Pesisir (AMP) siap menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Kepulauan Meranti XI tepatnya pada 19 Desember 2019 mendatang.

Komunitas yang baru saja dibentuk sebagai wadah atau tempat perhimpunan pecinta seni dan budaya Melayu siap eksis baik dalam seni, budaya dan agama.

Komunitas yang dinakhodai Zulfahmi itu berasaskan tentang jatidiri melayu, ia mengatakan siap eksis dalam bidang agama, budaya dan kesenian pasalnya, melayu identik dengan islam.

"Komunitas ini baru saje kami bentuk dengan kawan-kawan untuk macam mane budaya melayu yang hampir memudar, kembali bisa dikenang bahkan diterapkan kesehari-harian masyarakat," tutur Zulfahmi dengan logat melayunya.

Zulfahmi yang biasa disapa Pak Usu membeberkan, ia sangat terinspirasi tatkala melihat postingan akun facebook Toy Butar-butar dan Deni Afriadi sebuah Komunitas Serai Serumpun di Pekanbaru Riau beberapa waktu lalu, sehingga ia lakukan perbincangan kecil kepada Toy Butar-butar dan Deni lewat via telpon. Ia merasa terpanggil untuk melakukan hal serupa di tanah kelahirannya.

"Kalau baju kurung atau baju teluk belange itu dah biase tapi saat saye menengok postingan kawan-kawan tersebut mengenekan pakian melayu klasik bak diera kerajaan dulu, saye merase terpanggil untuk pingin lakukan hal semacam itu sehingge saye telpon Bang Abdullah, H. Edi, Bang Khadavi Bg Zulkifli Bang Jefri, Bang Dedi dan lain-lain untuk meminta arahan dan tunjuk ajonye," ucap Pak Usu kepada GoRiau.com, Jumat (13/12/2019).

Pak Usu yang identik dengan rambut gondrongnya mengatakan, ia sudah melakukan rapat internal mereka terkait wacana di HUT Meranti itu nanti, baik dari nama komunitas yang mereka bentuk, program kerja jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek sudah dibahas ia dan rekan-rekannya.

Diakui Pak Usu, rapat itu lebih dari dua kali dilakukan tepatnya di Gedung LAMR Kepulauan Meranti, khususnya program jangka pendek yakni Kabupatennya yang hanya tinggal beberapa hari lagi merayakan hari jadi yang ke-11 tahun.

"Kite berencana di hari jadi Meranti nanti akan turun beramai-ramai dengan pakaian melayu klasik dan lengkap dengan keris dipinggang atau dipegang, lalu para wanita akan bermain congkak, menganyam tikar, membuat ketupat dan lain-lain," pungkasnya lagi.

Lebih jauh dikatakannya, rekan-rekan Komunitas Serai Serumpun berinisiatif turut memeriahkan di HUT Meranti nanti, para laki-laki akan bermain layangan, bermain gasing dan memainkan permainan tradisional lainnya.

Bahkan ia menyinggung soal program kerja komunitas yang dipimpinnya itu memakai baju klasik tersebut pada saat HUT Meranti dijadikan iven setiap tahun, kenduri sekampong, halal-bihalal, mengikuti pengajian dari Masjid ke Masjid mengenakan pakaian melayu klasik seminggu atau dua minggu sekali, meminta pemda agar menambah ekstra kurikulum tambahan tentang budaya melayu, baik sekolah Negeri maupun swasta, meminta buatkan perbup atau perda tentang mengenakan berpakaian sopan dimuka umum, memasukkan kesenian budaya melayu di setiap sekolah tanpa kecuali, bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan guna untuk mempublikasikan ke masyarakat umum.

"Salah satu program kerje yang akan kami upayekan adelah mengikuti pengajian dari Masjid ke Masjid mengenekan baju klasik itu nanti, sebab diera kerajaan dulu Sultan dan para pembesar istana bahkan hingge rakyat jelate memakai tanjak saat ke Masjid," jelas Pak Usu.

Kemudian Sebut Pak Usu lagi, baju klasik tersebut bisa dibuat dari kain sarung, ia berharap bahwa program-program yang disusun bersama rekan-rekannya itu mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten, sehingga diakuinya kostum yang sudah disiapkannya sudah empat kostum. turut mendukung dan ikut serta untuk meramaikan di HUT Meranti Organisasi Kepemudaan (OKP) Laskar Merah Putih yang diketuai Tengku Fadli Fakhrudin, dan dari LAM-R Kepulauan Meranti Ketua Umum Datuk Seri H. Ridwan Hasan dan Ketua Harian dibawah naungan Datuk Seri Muzamil Baharudin.

"Khusus untuk wanita mengenekan baju kurung melayu tidak untuk menampakkan lekuk badannye sebab jaman nenek moyang kite bajunye semue agak melobou alias longgar, dan untuk lelaki ketike mengenekan tanjak pade saat adzan dikomandangkan tidak ade lagi beraktifitas sebab hal itu merusak citra tanjak," tutupnya.

Sementara itu, Sekretaris LAM-R Kepulauan Meranti sekaligus dewan penasehat komunitas AMP, Datuk Abdullah menyikapi, ada nilai plus bergerak di komunitas ini, di antaranya adalah tidak begitu terikat, semua unsur, Organisasi, LSM, Orsospol, Ormas, OKP, paguyuban, Swasta maupun Aparatur Negri Sipil (ASN) atau pribadi dan perorangan yang merasa searah, setujuan, memiliki kesamaan prinsip dan persepsi atau pandangan yang sama dalam suatu sasaran, dapat serta boleh bergabung. Selagi tidak bertentangan dengan aturan yang berlaku.

"Saya memandang hal ini sangat baik untuk dimula bertepatan dimomen HUT Meranti, kita berharap hal ini bisa dilakukan setiap tahunnya," ujarnya

Ditambahnya lagi, ia akan juga akan melibatkan masyarakat suku pedalaman atau lebih dikenal Suku Akit karena Akit termasuk Komunitas Adat Terpencil (KAT) menurutnya, mereka juga bahagian dari Melayu tua.

"Semoga ini awal yang baik, saya juga Mengapresiasi dari sudut pandang Pak Usu dan kawan-kawan sebab peduli dengan seni dan budaya melayu, namun sebagai anak jati melayu harus berbuat untuk negerinye sendiri," kata Abdullah.

Terakhir, Sekretaris LAM-R Kepulauan Meranti itu menghimbau kepada masyarakat untuk turut bepartisipasi dalam rangka memeriahkan hari jadi Kabupaten termuda di Riau itu.***