SELATPANJANG - Mencoba gagal itu lebih baik daripada tidak sama sekali, namun saat mencoba dan gagal terus terkadang membuat kita kecewa dan putus asa. Namun tidak untuk Faizal warga Selatpanjang, Kepulauan Meranti, Riau ini sudah terhitung lima kali gagal mengikuti tes seleksi TNI tidak membuatnya putus asa.

Kisah ini terungkap saat satu pleton anggota TNI dari satuan Komando Resort Militer 031/Wirabima bersenjata lengkap menyambangi gubuk tempat tinggalnya yang beralamat di Jalan Sumber Sari, Kelurahan Selatpanjang Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti, pada Jumat (19/4/2019).

Kedatangan teman seperjuangannya waktu mengikuti tes seleksi TNI itu bagian dari bentuk rasa solidaritas yang bersamaan dengan agenda pengamanan pesta demokrasi serentak 2019 di Kota Sagu.

Saat dihampiri beberapa personil di Rumah orangtuanya itu, Faizal tak kuasa menahan haru saat mengetahui kedatangan pasukan baret hijau itu adalah untuk memberi semangat kepadanya yang telah beberapa kali mengikuti tes Tamtama TNI, namun belum berhasil.

Ads
Faizal bercerita, awalnya dia punya keinginan yang kuat untuk menjadi  personil TNI. Namun sudah lima kali dia gagal mengikuti tes tersebut. 

Setelah menamatkan pendidikan di bangku SMA pada tahun 2015, Faizal mendaftar ke Komando Resort Wirabima 031, hingga pada tahun 2017 dia juga tidak kunjung bisa mengenakan seragam loreng karena dianggap belum memenuhi syarat.

"Saya daftar Tamtama sudah lima kali namun gagal, dan terakhir saya juga mendaftar di kepolisian juga gagal," ujar Faizal, Sabtu (20/4/2019).

Gagal berkali-kali mengikuti tes tidak membuat dirinya putus asa dan mengubur dalam-dalam impian sejak kecilnya itu. Namun pengalaman kegagalan dijadikan remaja kelahiran 1997 itu modal untuk tes berikutnya. Fisik dan mental dipersiapkan dengan matang termasuk mendalami soal-soal tertulis.

Anak ketiga dari pasangan Suryadi dan Latifah ini ketika akan mengikuti tes selalu mempersiapkan diri. Dimana dia juga sudah mengantisipasi kendala seperti amandel dan kelainan pada giginya.

"Saya terus mempersiapkan diri saat akan mengikuti tes dengan melakukan olah fisik. Bahkan saya sempat bekerja ke Malaysia selama enam bulan untuk mencari biaya merehab gigi. Sedangkan amandel sering saya atasi menjelang tes," kata Faizal.

Dia mengatakan, semua persyaratan sudah dilengkapinya, namun dari sisi materi dia merasa belum mampu untuk memenuhinya. Hal itu dikatakan karena dia berasal dari keluarga yang kurang mampu.

Saat ini dia terus bekerja serabutan, berbagai pekerjaan pun dilakoni siang dan malam seperti bekerja kuli bangunan di siang hari, dan menjual roti bakar pada malam hari untuk biaya mengikuti seleksi lagi pada tahun berikutnya.

Keinginan yang kuat untuk menjadi seorang personil TNI dikatakannya selain cita-citanya sejak kecil, dia juga mengabdi kepada negara. Selain itu dia juga mempunyai paman yang juga menjadi seorang prajurit TNI.

"Selain menjadi cita-cita sejak kecil, saya juga ingin mengabdikan diri kepada negara dan membahagiakan orangtua. Paman saya yang sekarang bertugas di Batalyon di Palembang juga selalu memberi semangat," tuturnya.

Faizal kembali mencoba untuk mengikuti tes pada tahun ini, semangatnya pun menjadi lebih terpacu dengan kedatangan teman seperjuangan.

"Saya tidak dapat menahan rasa sedih yang begitu dalam, dimana pada saat rekan-rekan dari Dumai berstatus TNI yang bertugas di Meranti kemarin juga datang dan silahturahmi ke rumah saya. Mereka memberikan support kepada saya supaya saya tidak patah semangat dan selalu sabar untuk mencoba kembali," ungkap Faizal diiringi tetesan air mata membasahi di pipinya.***