
TELUKKUANTAN – Masyarakat Kuantan Singingi (Kuansing), Riau sudah merasakan dampak dari aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI). Mereka selalu dihantui oleh banjir bandang yang bisa datang kapan saja.
Hal ini terungkap saat sosialisasi dan focus group discussion (FGD) penyusunan kajian risiko bencana Kabupaten Kuansing tahun 2023 pada 24 Juli 2023 lalu di Ruang Multimedia Kantor Bupati Kuansing.
Dalam satu dekade terakhir, bencana banjir bandang sudah beberapa kali menghantam Desa Petapan, Kecamatan Gunungtoar.
Menurut Khairul Amri, Kasi Trantib Kecamatan Gunungroar, sudah ratusan tahun masyarakat bermukim di Desa Petapahan. Tidak ada mengenal namanya banjir bandang.
Kemudian, tahun 2004, mulai eksplorasi PETI di desa tersebut. Menurut Khairul, tokoh masyarakat Gunungtoar sudah berupaya menolak kehadiran PETI saat itu. Akibatnya, orang-orang yang menolak menjadi musuh masyarakat.
"Tahun 2009, banjir bandang pertama kali menghantam Desa Petapahan. Saat itulah, masyarakat kenal dengan banjir bandang," ujar Khairul Amri dalam acara tersebut.
Sejak saat itu, banjir bandang terus menjadi ancaman warga Petapahan. Bahkan, banjir bandang terbesar terjadi pada 2 Maret 2019, ada 22 rumah yang hancur. "Ini bendungan yang pecah, mengakibatkan 22 rumah hancur."
"Kemaren, banjir bandang datang lagi. Ada satu orang yang meninggal dunia. Dia meninggal karena ingin menyelamatkan harta benda," kata Khairul.
Ketika terjadi banjir bandang, proses evakuasi sangat sulit. Akses masuk ke wilayah terdampak banjir tidaklah mudah.
Kondisi ini membuat masyarakat resah. Setiap hujan turun, mereka tak bisa tidur nyenyak. Selalu dihantui banjir bandang.
"Karena itu, kami ingin bagaimana solusinya. Supaya, ketika terjadi banjir bandang, ada solusi penanganan situasi darurat," ujar Khairul.
Menanggapi hal ini, Plt Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kuansing, Yulizar menyatakan persoalan-persoalan bencana yang ada di Kuansing menjadi atensi Pemkab Kuansing.
"Karena itu, kita perlu menyusun kajian risiko bencana, sebagai 'kitab suci' BPBD. Dari sini, nanti output-nya jelas, apa yang akan kita lakukan nantinya," tutup Yulizar.***