PEKANBARU - Setiap akhir Oktober, bangsa ini memperingati Hari Sumpah Pemuda. Namun bagi Ketua BEM Universitas Riau, Ego Prayogo, perayaan itu kini kehilangan ruhnya. Ia menyebutnya tak lebih dari formalitas tahunan yang jauh dari semangat para pemuda 1928.
“Sumpah Pemuda hanya dilaksanakan sebatas upacara formal tanpa dimaknai sebagaimana para pemuda dahulu mendirikan fondasi Indonesia,” ujar Ego kepada Goriau, Selasa (28/10/2025).
Kritik Ego muncul di tengah suasana muram bagi gerakan mahasiswa. Sehari sebelum peringatan Sumpah Pemuda, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menolak gugatan praperadilan Khariq Anhar, mahasiswa Universitas Riau yang ditetapkan sebagai tersangka bersama tiga aktivis lain: Delpedro Marhaen, Muzaffar Salim, dan Syahdan Husein. Mereka dijerat pasal penghasutan dan pasal dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik setelah unggahan di media sosial dianggap menghasut publik.
“Bagaimana mungkin kita bisa memaknai Sumpah Pemuda sementara para pemuda yang menyampaikan aspirasi justru dikriminalisasi?” kata Ego.
“Pemerintah hari ini menunjukkan betapa bobroknya sistem yang ada. Pemuda yang bersuara dianggap ancaman.”
Ia juga menuding sikap diam Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebagai bentuk abai terhadap suara generasi muda.
“Ini era baru Prabowo–Gibran yang buta dan tuli terhadap keadaan. Gibran tidak pantas disebut mewakili generasi muda,” ucapnya.
Khariq, yang dikenal aktif dalam gerakan mahasiswa dan kerap melayangkan kritik terhadap kebijakan pemerintah, kini menunggu kelanjutan kasusnya. Setelah gugatan praperadilan ditolak, penyidik Polda Metro Jaya telah melimpahkan berkas perkara ke Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta. Bila berkas dinyatakan lengkap, proses hukum akan berlanjut ke tahap dua: pelimpahan tersangka dan barang bukti.
Di tengah situasi ini, Ego mengingatkan bahwa semangat Sumpah Pemuda bukanlah soal seragam dan upacara.
“Sumpah Pemuda harus dimaknai sebagai perlawanan terhadap ketidakadilan dan keberanian untuk bersuara. Bukan seremonial belaka yang membuat pemuda hanya tampak patuh tapi sebenarnya dibungkam''. ***


