
PEKANBARU -- Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah (PPW) Riau, Ditjen Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR), Ichwanul Ihsan, menegaskan, tidak ada anggaran untuk jatah preman (japrem) dalam pengerjaan proyek Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Kota Pekanbaru.
Ichwanul menegaskan hal itu menanggapi tudingan yang muncul di media bahwa ada dana miliaran rupiah disalurkan kepada sejumlah pihak untuk pengamanan proyek IPAL di Pekanbaru, yang diistilahkan media tersebut dengan jatah preman.
''Saya pastikan tidak dana jatah preman dalam pengerjaan proyek IPAL ini, karena memang tidak ada aturan yang membolehkannya,'' tegasnya di Pekanbaru, Rabu (29/12/2021).
Ichwanul mengaku merasa tidak enak hati dengan pihak-pihak yang dituduh menerima dana japrem tersebut. Apalagi, media yang menuding tersebut menyebutkan nama-nama jabatannya.
''Disebutkan nama jabatannya, walaupun tidak dituliskan nama pejabatnya. Saya merasa tidak enak dengan mereka, karena tudingan itu tentu saja merusak nama baiknya,'' ujarnya.
Kepada mereka yang dituding menerima dana japrem tersebut, Ichwan meminta maaf. ''Kita meminta maaf kepada mereka yang dituding menerima dana japrem tersebut, karena tudingan itu pasti membuat mereka merasa tidak nyaman,'' ucapnya.
Meminta Maaf kepada Warga
Dalam kesempatan itu, Ichsan juga meminta maaf kepada warga yang terdampak proyek IPAL, terutama warga yang terganggu usahanya atau perekonomiannya akibat proyek tersebut.
Ichwan pun mengakui bahwa pengerjaan proyek IPAL tidak selesai tepat waktu atau tertunda dari waktu yang disepakati dalam kontrak. ''SC1 dan SC2 belum selesai,'' katanya.
Dikatakan Ichwan, ada sejumlah faktor yang menyebabkan tertundanya penyelesaian proyek IPAL tersebut, di antaranya tingginya curah hujan dan pecahnya pipa PDAM.
Diterangkannya, pengerjaan IPAL di Jalan Rajawali, sebelumnya sempat tertunda karena ada pipa PDAM yang pecah di lokasi. ''Kita tidak bisa langsung mengganti karena jenis pipanya berbeda. Setelah ada pipa yang baru, kemudian pihak PDAM melakukan pemasangan dan perbaikan. Setelah perbaikan pipa PDAM yang pecah selesai dilakukan, barulah kita bisa bekerja lagi,'' tuturnya.
Meski pemasangan pipa sudah selesai, namun Jalan Rajawali belum bisa diaspal karena belum padat. ''Kalau dipaksakan diaspal, dalam waktu singkat akan rusak lagi, kan percuma,'' imbuhnya.
Ichwanul Ihsan meminta masyarakat bersabar karena pihaknya akan menggesa penyelesaiannya, namun tetap mengutamakan kehati-hatian.
''Harus benar-benar dilaksanakan dengan baik dan hati-hati. Tidak boleh asal dipadatkan dan digiling, karena di bawah itu ada pipa PDAM yang ditanam tahun 1970 an. Sedikit saja kena, bisa pecah,'' sambungnya.bas