
PEKANBARU, GORIAU.COM - Isu akan adanya serangan balik dari geng motor di Pekanbaru semakin santer beredar di Pekanbaru. Dalam isu yang tersebar dari broadcash blackberry messanger tersebut, serangan akan dilakukan Sabtu (6/10/2012) sekitar pukul 19.00 Wib.
Dalam himbau tersebut diutarakan agar masyarakat Pekanbaru waspada pada pukul 19.00 Wib tersebut dan diharapkan jangan keluar rumah. Dikabarkan juga pimpinan XTC dari Bandung sudah tiba di Pekanbaru beserta 1.000 rombongan XTC lainnya.
Dikabarkan juga akan ada masyarakat Pekanbaru yang terlibat karena sikap dan tindakan dari salah satu geng motor yang brutaL dalam kejahatan, dan masyarakat akan bersatu memberantas kejahatan yang telah terjadi di Pekanbaru.
Sementara itu, Kapolresta Pekanbaru, Kombes Pol Drs R Adang Ginanjar melalui Kasat Reskrim, AKP Arief Fajar Satria SH SIK, Jumat (5/6/2012) menghimbau agar masyarakat tetap mempercayakan penanganan kasus ini kepada polisi.
''Geng motor ini sudah menjadi momok bagi masyarakat. Kami imbau masyarakat agar dapat menahan diri. Serahkan pada kami penanganan ini. Setiap malam kita terus melakukan ploting anggota di lokasi-lokasi yang rawan geng motor,,'' imbaunya.
Dari data yang dihimpun Polresta Pekanbaru, aksi terkait kebrutalan geng motor ternyata sudah sering terjadi dan meningkat sejak Juli hingga Oktober 2012.
Dari 19 kasus ini, umumnya dilakukan pada pukul 21.30 WIB hingga 04.00 Wib diantaranya merampas delapan sepeda motor, hilangnya uang Rp12.950.000, dan tiga unit handphone, kerusakan satu unit mobil, 15 orang luka dan dua kritis, serta kerusakan senilai Rp11 juta.
Dari keseluruhan lokasi ini, Wen, bos geng motor Ghost Night dan Asteq yang diamankan Polresta Pekanbaru, Senin (1/10) malam sekitar pukul 20.30 WIB terlibat di tujuh TKP.
Wen juga terlibat aksi brutal dengan merusak di Jalan Kartini, SMP Kemala Bhayangkari. Di sana, Wen, masuk ke ruangan OSIS SMP itu secara paksa, Rabu (26/9). Ia merusak laci dan melarikan uang Rp3,6 juta di sana.
Berselang sehari, Wen kembali beraksi di lokasi yang sama, SMP Kemala Bhayangkari. Kali ini, ia datang sekitar pukul 02.00 WIB bersama seorang temannya. Dengan menodongkan pisau pada penjaga sekolah, Wen mengaku anak salah seorang mantan guru dan masuk ke ruang bendahara sekolah mengambil uang Rp5 juta di sana.
'Pada Rabu (26/9/2012) pukul 23.00 WIB, ia juga melakukan perampasan sepeda motor dengan melukai korban di bagian kepala dengan pisau menggunakan samurai. Sementara Kamis (27/9) pada pukul 23.45 WIB, Wen juga melakukan penganiayaan di Jalan Diponegoro hingga menyebabkan korban menderita luka lebam.
Selain empat aksi di atas, Wen juga berulah di Jalan Kereta Api, Jumat (28/9) dini hari sekitar pukul 03.00 WIB. Disini, Wen membacok seorang mantan anggota geng motor Asteq yang sudah bergabung ke dalam XTC. Sepeda motor korban Yamaha Mio berwarna biru BM 3251 NH dibawa lari.
Terakhir ia melakukan penganiayaan dua kali di depan Jalan Sudirman Ahad (30/9) dini hari. Disini, tiga orang menjadi korban penganiayaan dengan kondisi semuanya mengalami luka bacok pada bagian kepala dan dua orang putus pada jari tangannya. Dari belasan aksi kekerasan yang dilakukan geng motor ini, Kasat Reskrim memaparkan, mayoritas merupakan tindakan yang dilakukan XTC dan Ghost Night.
''-ni bukan lagi kenakalan remaja, tapi sudah merupakan perilaku menyimpang. Karena apa yang diperbuat sudah seperti kejahatan orang dewasa,'' kata Arief.
Geng motor ini, kata Arief lagi, merupakan kelompok yang terorganisir. Mereka memiliki bos, ketua I, ketua II, sekretaris dan bahkan bendahara. Untuk Wen, ia mempunyai lima orang kordinator di bawahnya.
''Ada dana iurannya juga. Aksi curas (pencurian dengan kekerasan) dan curat (pencurian dengan pemberatan) yang dilakukan untuk membiayai kegiatan kelompok mereka,'' papar Arief.
Dikatakannya lagi, di Pekanbaru ada lima geng motor, yakni Ghost Night, XTC, Asteq, Bridgez dan Kansas. Sebagian dari mereka adalah anak sekolah.
''Anak-anak ini disusupi oleh residivis dan orang dewasa yang sudah putus sekolah untuk bergabung dengan geng motor,'' lanjutnya sambil mengatakan pihaknya sudah menyerahkan data 350 orang yang diduga menjadi anggota geng motor pada sekolah-sekolah yang ada di Pekanbaru.
Dalam penanganan kasus geng motor ini, Arief kembali menekankan tidak akan ada toleransi lagi bagi mereka yang merupakan pelaku kekerasan.
''Kita tidak ada toleransi lagi. Penangguhan tidak akan kita berikan. Kepada pelaku yang masih berusia anak-anak, berkasnya kita percepat. Ini kita lakukan karena para pelaku tidak hanya beraksi sekali, tapi sudah berulangkali,'' ungkapnya lagi. (rdt)