DURI - Ternyata mengabaikan imunisasi pada anak balita juga berdampak fatal bagi ketahanan tubuhnya setelah dewasa. Salah satunya adalah terkena 'difteri' yang dikembangkan oleh dua jenis bakteri yaitu Corynebacterium diphtheriae dan Corynebacterium ulcerans.

Kasus anak yang terkena difteri ini di Duri, Kecamatan Mandau sudah mencapai 4 orang di Kelurahan Duri Barat, di Kelurahan Air Jamban dan sekolah dasar, dengan usia berkisar 6-10 tahun.

Untuk itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Bengkalis, dr Fidel Fuadi menghimbau agar para orangtua dapat membawa anaknya ke posyandu untuk imunisasi. Selain itu juga membawa anak-anak yang belum lengkap imunisasi ke lokasi-lokasi dilakukannya imunisasi massal oleh UPT Kesehatan setempat.

"Dari temuan 4 anak itu, berhasil dilakukan pengobatan, namun dampak dari penyakit ini jika terlambat diobati akan menyebabkan kematian. Untuk itu kami menegaskan kepada orangtua agar tidak mengabaikan imunisasi pada anaknya," ujar dr Fidel Fuadi kepada GoRiau.com (GoNews Grup), Minggu (13/11/2016).

Baca Juga: Miliki Balita Wajib Bawa ke Posyandu

Menurutnya, Difetri ini kasus luar biasa (KLB) yang sudah lama sekali tidak ditemukan di Mandau khususnya Kabupaten Bengkalis. "Setelah 30 tahun, baru kali ini kita temukan lagi. Kita sangat sayangkan sekali masih ada orangtua yang enggan membawa anaknya untuk mendapatkan vaksin yang lengkap," kata Fidel lagi.

Didampingi, dr Novi Novera, ia menjelaskan mengenai penyakit difteri ini. Dimana difteri penyakit yang menyerang selaput lendir pada hidung serta tenggorokan dan terkadang dapat memengaruhi kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang dapat mengancam jiwa jika tidak segera ditangani.

Difteri disebabkan oleh dua jenis bakteri yaitu Corynebacterium diphtheriae dan Corynebacterium ulcerans. Masa inkubasi (saat bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul) penyakit ini umumnya dua hingga lima hari.

Baca Juga: Pastikan Bayi di Desa Ikuti Imunisasi

Gejala-gejala yang mengindikasikan penyakit ini meliputi terbentuknya membran abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel, demam dan menggigil, sakit tenggorokan dan suara serak, sulit bernapas atau napas yang cepat, pembengkakan kelenjar limfa pada leher, lemas dan lelah.

Selanjutnya, hidung beringus. Awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang berdarah. Difteri juga terkadang dapat menyerang kulit dan menyebabkan bisul. Bisul-bisul tersebut akan sembuh dalam beberapa bulan, tapi biasanya akan meninggalkan bekas pada kulit.

"Jika ada gejala-gejala tersebut, segera periksakan diri ke dokter jika Anda atau anak Anda menunjukkan gejala-gejala yang kita sebutkan tadi. Penyakit ini harus diobati secepatnya untuk mencegah komplikasi," sebutnya.

Penyakit difteri ini sangat mudah menular. Penyebaran bakteri difteri dapat terjadi dengan mudah dan yang utama adalah melalui udara saat seorang penderita bersin atau batuk. Selain itu, ada beberapa metode penularan lain yang perlu diwaspadai. Antara lain melalui barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, misalnya mainan atau handuk.

"Sentuhan langsung pada bisul akibat difteri di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga. Kontak langsung dengan penderitanya, meminum susu yang belum melalui proses pasteurisasi atau sterilisasi," paparnya lagi.

Bakteri difteri ini akan memproduksi toksin yang akan membunuh sel-sel dalam tenggorokan. Sel-sel yang mati tersebutlah yang akan membentuk membran abu-abu pada tenggorokan. Di samping itu, toksin juga dapat menyebar lewat darah dan menyerang jantung serta sistem saraf.

"Orang yang sudah menerima vaksinasi masih bisa terinfeksi penyakit ini. Namun mereka biasanya tidak menunjukkan gejala saat sedang terinfeksi. Tetapi Anda harus tetap waspada karena mereka juga dapat menularkan difteri," kata dr Novi.

"Jadi jika ada temuan kasus ini di suatu wilayah, maka Dinas Kesehatan akan melakukan imunisasi massal di daerah tersebut guna menekan terjadinya penularan pada yang lain. Seperti yang sekarang sedang berjalan, imunisasi di sekolah dan Kelurahan yang ditemukan masyarakatnya menderita difteri itu," tambahnya lagi.

Dan biasnaya, bagi penderita yang mengalami kesulitan bernapas karena hambatan membran abu-abu dalam tenggorokan, dokter akan menganjurkan proses pengangkatan membran. Sedangkan penderita difteri dengan gejala bisul pada kulit dianjurkan untuk membersihkan bisul dengan sabun dan air secara seksama.

Selain penderita, orang-orang yang berada di dekatnya juga disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter karena penyakit ini sangat mudah menular. Misalnya, keluarga yang tinggal serumah atau petugas medis yang menangani pasien difteri.

Dokter akan menyarankan mereka untuk menjalani tes dan memberikan antibiotik. Terkadang vaksin difteri juga kembali diberikan jika dibutuhkan. Hal ini dilakukan guna meningkatkan proteksi terhadap penyakit ini.

"Memang belum ada satupun penderita ini di Duri yang meninggal dunia karena cepat penanganan. Tetapi, jangan abaikan penyakit yang masuk KLB ini. Harus segera dilakukan untuk mencegah penyebaran sekaligus komplikasi yang serius, terutama pada penderita anak-anak," pungkasnya lagi. *** #BENGKALIS