PEKANBARU - Nasib pilu SAS (8), bocah kelas I Sekolah Dasar (SD) di Rumbai, Pekanbaru-Riau ini mencuat setelah kecurigaan dari pihak guru di sekolahnya. Kenapa tidak, SAS sering mengikuti proses belajar-mengajar dalam keadaan terkantuk-kantuk.

Merasa ganjil, pihak sekolah lalu menanyakan sebab SAS tidak bergairah dan mengantuk. Dengan polosnya bocah perempuan itu mengatakan kalau ia sering pulang larut malam, bahkan sampai dinihari. Menyedihkannya, waktu istirahat SAS tersita bukan lantaran karena bermain.

"Gurunya cerita sama kami, kalau awalnya SAS ini sering mengantuk. Saat ditanya ia menjawab bahwa dia disuruh orangtua mengemis sampai larut malam," ujar Nanda Pratama, dari Bidang Pelayanan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Riau saat diwawancarai GoRiau.com di Mapolresta Pekanbaru.

Bahkan kakinya juga melepuh, kemungkinan disebabkan SAS sering berjalan jauh demi mengemis. Lebih tragisnya, pada tubuh bocah malang ini ada beberapa luka membiru, salahsatunya di bawah mata. "Itu katanya dipukuli pakai besi sama orangtua (ibunya, red)," beber Nanda.

Sebab ia dipukul, sambung Nanda, lantaran SAS sering kurang nyetor kepada ibunya berinisial E. "Jadi kewajibannya harus bawa uang Rp100 ribu. Kalau kurang bisa-bisa dipukul sama dia (E, red). Pengakuannya begitu," lanjutnya Jumat (1/4/2016) sore.

Darisanalah akhirnya kisah SAS menyeruak ke publik dan jadi perhatian banyak pihak. "Kita telusuri ke masyarakat setempat. Nah pagi tadi kami juga ke sekolah. Kita ngobrol sama pihak sekolah dan dibenarkan. Kalau untuk pemukulan itu ketahuannya karena ada bekas biru di wajahnya," tukas Nanda.

Usut punya usut, ternyata tidak hanya SAS yang disuruh mengemis oleh ibunya E, namun tiga adik kakaknya yang lain, berumur 15, sembilan dan enam tahun. Mereka juga kerap disuruh meminta minta di Kota Pekanbaru. "Bahkan yang kecil umur enam tahun, ada bekas membiru di paha kanannya, katanya karena dicubit," singkat dia. ***