PEKANBARU – Inflasi tahunan Riau pada Maret 2023 mencapai 5,54 persen, menunjukkan adanya perubahan signifikan pada ekonomi di provinsi itu. Berdasarkan data Indeks Harga Konsumen (IHK) yang mencapai 114,81, ketiga kota di Riau mengalami inflasi year on year (yoy). Meskipun demikian, secara bulan ke bulan, ketiga kota tersebut justru mengalami deflasi.

"Inflasi yoy yang terjadi di Riau disebabkan oleh kenaikan harga pada sebagian besar indeks kelompok pengeluaran," ungkap Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, Ajid Hajiji, didampingi Statistisi Madya, Fitri Haryanti, pada Selasa (4/4/2023).

Menurut Ajid Hajiji, inflasi yoy di Riau dipicu oleh kenaikan harga pada kelompok transportasi sebesar 14,65 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 7,22 persen, serta makanan, minuman dan tembakau sebesar 6,57 persen.

Sementara itu, deflasi month to month (mtm) disebabkan oleh penurunan harga pada beberapa komoditas, seperti cabai merah, bawang merah, beras, dan telur ayam ras.

Dari 24 kota di Sumatera yang menghitung IHK, seluruh kota mengalami inflasi yoy. Inflasi yoy tertinggi terjadi di Kota Tanjung Pandan dengan angka 6,71 persen, diikuti oleh Kota Meulaboh sebesar 6,27 persen dan Kota Dumai sebesar 6,25 persen. Sementara itu, inflasi yoy terendah terjadi di Kota Tembilahan dengan angka 3,49 persen.

Dalam konteks Provinsi Riau, Kota Dumai menempati urutan ketiga terkait inflasi yoy di Sumatera, disusul Kota Pekanbaru di urutan kedelapan, dan Kota Tembilahan di urutan ke-24.

Kenaikan inflasi ini tentunya berdampak pada kehidupan masyarakat, terutama dalam hal pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari. Pemerintah perlu meningkatkan upaya pengendalian inflasi agar stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat tetap terjaga. ***