
SELATPANJANG, GORIAU.COM - Di usianya yang masih sangat muda, Tisa (7) putri dari pasangan Usman (38) dengan Supiah (38) yang merupakan warga Jalan Ampuan RT 03 RW 01 Dusun 1 Desa Kuala Merbau Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, harus rela terbaring dan melawan sakit akibat tumor yang menggerogoti otaknya. Tumor ganas itu telah melumpuhkan sekujur badan gadis kecil itu sejak 4 bulan yang lalu.
Tisa, ketika ditemui wartawan di kediamannya beberapa waktu lalu terlihat sedang terbaring lemah dengan dibalut sehelai kain batik panjang. Gadis kecil berambut ikal itu tidur di atas kasur yang sudah menipis.
Selang kecil bening terlihat melingkar dan masuk ke hidungnya. Tisa sama sekali tidak sadar waktu itu. Terlihat ibunya setia merawat putri kesayangan yang sedang melawan ganasnya tumor yang bersarang di otak.
Menurut keterangan Usman alias Atan yang merupakan orang tua Tisa, awalnya Tisa mengalami muntah-muntah ketika pulang sekolah sekitar bulan Maret 2013 yang lalu.
"Pulang sekolah dia (Tisa, red) muntah-muntah sambil memegang kepala dan menangis. Awalnya kami menduga Tisa hanya kecapean," katanya kepada wartawan.
Dikatakan suami Supiyah ini lagi, sakit Tisa itu tidak lama. Tisa kembali sehat dan bisa bermain lagi seperti bersama teman-teman sebayanya.
Namun, kondisi Tisa kembali memburuk sekitar bulan April hingga Juni 2013 atau bertepatan dengan bulan puasa Ramadan. Khawatir dengan kondisi Tisa, orang tuanya membawa ke Batam untuk menjalani operasi.
"Usai operasi, kondisinya agak membaik, sehingga Tisa bisa masuk sekolah," kata lelaki itu lagi.
Namun, kesehatan gadis kecil itu tidak bertahan lama. Hanya sekitar seminggu, setelah pulang dari sekolah, Tisa kembali sakit dan membuatnya tak lagi bisa masuk sekolah.
Tumor ganas ini terus saja menggerogoti otak gadis kecil yang seharusnya saat ini mendapatkan kebahagiaan layaknya anak-anak yang lain.
Kondisi Tisa semakin memperihatinkan. Sejak 4 bulan belakangan ini, Tisa mulai tidak bisa bergerak sama sekali. Ia hanya terbaring lemah dengan mata dan mulut yang tidak bisa digerakkan.
"Hanya jari tangan dan jari kaki yang dapat bergerak. Kita tahu dia jaga atau tidur ya dari gerakan jarinya," ungkap lelaki itu dengan wajah yang sangat sedih.
Akibat penyakit ini pula, Tisa tidak lagi bisa menikmati enaknya makanan. Tisa hanya makan bubur. Itupun harus terlebih dahulu dihaluskan dengan blender yang kemudian disaringkan lagi menggunakan saringan (tapis makanan, red) untuk mengambil air sari pati makanan yang telah dihancurkan itu.
Air dari sari pati makanan itulah yang kemudian disuntikkan melalui selang kecil yang melingkar dan masuk melalui hidung Tisa.
Akibat dari penyakit Tisa ini pula membuat Usman harus libur kerja. Hari-harinya dihabiskan untuk merawat anak gadis kecilnya.
"Semenjak anak saya sakit saya tak dapat bekerja, bahkan ongkos pengobatan anak saya saja berasal dari sedekah keluarga dan tetangga sekitar," ujarnya pula.
Meski sebelumnya Tisa pernah menjalani pengobatan alternatif, ke Batam, dan RSUD Arifin Ahmad di Pekanbaru, namun karena keterbatasan ekonomi membuat Tisa tidak lagi dibawa berobat keluar. Untuk sakit yang kedua kalinya ini, keluarga kecil itu hanya mampu pasrah dan berdoa kepada sang pencipta.
"Untuk melakukan pengobatan yang kedua ini rasanya sangat berat, saya tidak punya dana lagi karena sudah lama tidak bisa bekerja," tuturnya lagi dengan tatapan nanar. (zal)