BENGKALIS, GORIAU.COM - Perayaan Imlek di Kota Bengkalis masih terasa meski sudah memasuki hari ketiga. Kondisi ini terlihat dari masih banyaknya toko yang tutup. Seperti di Jalan Teuku Umar, dimana banyak toko milik warga etnis Tionghoa masih ditutup, dan sebagian baru buka setengah atau hanya melayani pengunjung dekat sambil merayakan Imlek.
Abeng, warga Tionghoa yang tinggal di daerah Damon mengatakan sudah menjadi tradisi setiap Imlek mereka saling kunjung ke rumah kerabat terdekat. Ada yang pergi berombongan, satu keluarga dan ada pula sesama anak remaja.
“Biasanya kalau anak-anak sampai remaja ketika berkunjung ke rumah-rumah saudara atau keluarga terdekat akan mendapat angpao (amplop berwarna merah berisikan sejumlah uang, red). Tapi sebenarnya bukan angpao yang menjadi tujuan utama, namun bagaimana saling kunjung dan mempererat silaturrahmi sesama kita,” ujar Abeng.
Selain saling berkunjung, tambah Abeng, keluarga yang merantau ke luar Bengkalis biasanya pulang untuk merayakan Imlek bersama keluarga. “Saya rasa tidak jauh beda dengan kawan kita Muslim. Saat hari raya Idul Fitri, semua pulang ke kampung halaman untuk merayakan bersama orang tua atau keluarga terdekat,” ungkap pria yang penuh uban di kepalanya ini.
Puncak perayaan Imlek di Bengkalis biasanya akan digelar perayaan Cap Gomeh yang dipusatkan di pasar ikan lama atau di depan Kelenteng Hok Ann Kiong. Pada malam perayaan Cap Gomeh ini biasanya panitia peryaan Imlek bersama akan mengundang artis-artis top Mandarin, seperti tahun-tahun yang telah sudah dari Taiwan. (jfk)