
PEKANBARU – Tanaman kelapa, salah satu komoditas andalan di Riau, khususnya di wilayah seperti Indragiri Hilir, kini menghadapi tantangan serius. Selain cuaca yang sedang trek, persoalan pupuk subsidi hingga serangan hama dan penyakit mengancam produktivitas kebun kelapa rakyat.
Dosen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Riau, Irfandri, SP, MSi, mengungkapkan ada empat jenis hama dan empat penyakit utama yang sering menyerang tanaman kelapa. Bila tidak ditangani dengan tepat, bukan hanya menurunkan hasil panen, tetapi bisa menyebabkan kematian tanaman dalam waktu singkat.
Salah satu hama yang paling umum ditemukan adalah kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros). Hama ini menyerang bagian pucuk kelapa, membuat daun muda berlubang menyerupai kipas. "Pengendaliannya bisa dilakukan secara terpadu, mulai dari sanitasi kebun, penggunaan jamur Metarhizium anisopliae, feromon perangkap, hingga insektisida sistemik sebagai pilihan terakhir," jelas Irfandri, Kamis (24/4/2025).
Jenis hama lain seperti Sexava spp menyerang daun dan buah muda. Jika dibiarkan, daun kelapa bisa habis tersisa hanya lidi. Untuk mengatasinya, pelepasan parasitoid Leefmansia bicolor dan penggunaan bioinsektisida berbahan aktif Metabron dinilai cukup efektif.
Dua hama lainnya yang tak kalah mengganggu adalah kumbang merah kelapa (Rhynchophorus ferrugineus) dan kumbang daun kelapa (Brontispa longissima). Gejalanya antara lain daun menggantung, lubang di batang, hingga daun muda yang menggulung dan mengering. Irfandri menyarankan penggunaan jamur Beauveria bassiana serta parasitoid Asecodes hispinarum sebagai solusi hayati yang ramah lingkungan.
Dari sisi penyakit, jamur Ganoderma boninense menjadi musuh utama karena menyebabkan busuk batang bawah, hingga pelepah mudah rontok dan tanaman mati. Pencegahannya bisa dilakukan dengan aplikasi jamur Trichoderma spp. dan rotasi tanaman. "Fungisida kimia hanya digunakan terbatas karena dampak lingkungannya besar," katanya.
Penyakit lainnya adalah layu fusarium (Fusarium oxysporum), busuk ujung daun akibat defisiensi unsur hara, dan penyakit yang paling mematikan: layu akibat phytoplasma seperti Layu Natuna dan Layu Kalimantan.
"Phytoplasma menyerang sistem pembuluh tanaman. Jika tidak segera ditangani, kelapa bisa mati hanya dalam 6 sampai 18 bulan. Solusinya adalah menebang dan membakar pohon yang terserang serta mengendalikan gulma yang jadi inang serangga pembawa," ujar Irfandri. Ia juga menyarankan penggunaan antibiotik seperti Oxyhydrotetracycline untuk pencegahan.
Irfandri menegaskan bahwa tidak ada solusi tunggal dalam mengatasi hama dan penyakit. Pendekatan Integrated Pest Management (IPM) atau Pengendalian Hama Terpadu harus menjadi pilihan utama.
"Mulai dari pemantauan rutin, penggunaan varietas tahan, sanitasi kebun, pemupukan berimbang, sampai pemanfaatan musuh alami seperti jamur dan parasitoid harus berjalan bersamaan. Pestisida kimia cukup jadi opsi terakhir, dan harus yang selektif," tutupnya. ***