
SELATPANJANG - Jefrizal alias Jefry Al Malay, vokalis Sagu Band, beserta beberapa temannya dari Pekanbaru, Sabtu (9/1/2016) nampil di Bokor One Night Desa Bokor Kecamatan Rangsang Barat, Kepulauan Meranti, Riau. Tampil sebagai Woy Band dan membawakan lagu-lagu slow rock Malaysia, Jefry berhasil menciptakan suasana seolah-olah tahun 90an.
Pantauan malam itu, tepat di atas panggung sederhana, vokalis Sagu Band ini mengenakan pakaian ala rocker lawas asal negeri sahabat. Pernak-pernik kombinasi besi turut melekat di badan vokalis yang juga penyair itu.
Diiringi petikan senar gitar yang dimainkan Iam Sagu Band, lengkaplah sudah seolah-olah malam itu benar-benar ada di tahun 90an dan bukan di Indonesia, melainkan Malaysia. Lagu-lagu XPDC, Wings, dan beberapa grup band kondang asal negeri sahabat terus dinyanyikan.
Dengan kemampuan olah vokal yang begitu bagus, Jefry Al Malay membuat penonton yang memadati lapangan bola malam itu menjadi terhanyut. Decak kagum terlihat jelas dari penonton. Mulut-mulut penonton ikut menyanyikan lagu-lagu yang pernah nge-hit di Indonesia tahun 90an hingga hari ini.
Setidaknya ada sekitar 11 lagu yang dinyanyikan Woy Band malam itu, bersama teman-teman dari Pekanbaru seperti Mad Rock, vokalis Tanjak, dan Drummber Sagu Band Toy.
Jefry mengatakan, mereka sengaja menamakan grup itu sebagai Woy Band, karena 'Woy' merupakan panggilan atau ajakan kepada seseorang, yang kebetulan waktu itu Ia mengajak teman-temannya untuk nampil di Bokor One Night. "Setelah dapat info dari Sopandi tentang acara ini, kami mulai mengumpulkan teman siapa saja yang mau ikut dan tampil. 'Woy' siape yang nak ikut ke Bokor," ujar Jefry malam itu.
Terkait penampilan ala rocker 90an itu, Jefry mengaku sengaja membelikan atribut rocker lawas. Ini semata-mata untuk menciptakan malam itu seolah-olah ada di tahun 1990 (90an). "Kalau hari-hari taklah style kami macam ni. Ini untuk di atas panggung saje," ujar Jefry diikuti gelak tawa penonton.
Jefry mengatakan, tembang-tembang yang mereka nyanyikan itu mempunyai kisah tersendiri di hati. Saat-saat duduk di bangku sekolah dasar, mereka seringkali mendengarkan lagu-lagu slow rock malaysia. Memang di tempat lahirnya Pakning, baik siaran radio, maupun televisi, lebih mudah mengakseskan TV dan Radio dari Malaysia. "Selain itu bahasanya juga sangat dekat dengan kita. Bahasa ibu kita," tambahnya.
Alhasil, dengan upaya maksimal itu, Jefry dan kawan-kawan berhasil membuat Bokor One Night seolah-olah ada di tahun 1990. Musik slow rock yang dimainkan, mampu membangkitkan kenangan masa silam warga yang hadir malam itu.
Sebelumnya, Kepala Desa Bokor Aminullah SAg SH MSi, dalam sambutannya mengatakan siap mendukung penuh kreativitas warga Bokor. "Anak muda yang punya potensi berkrearivitas, silahkan, lakukan, moga apa yang kita inginkan jadi gerbang wisata bisa terwujud," ujar Aminullah.
Sementara ketua pelaksana Bokor One Night, Sopandi SSos mengungkap, ide untuk membuat acara tersebut berangkat dari pengalaman mereka nampil di Jazz Ampang, Malaysia. Acara yang ditargetkan dua bulan sekali ini akan digelar di berbagai tempat nantinya.
"Lokasi acaranya berpindah-pindah, kedepannya bisa saja di tempat suku akit," kata Sopandi yang juga mengatakan kegiatan ini mereka gelar bersama Pokdarwis Sake II Desa Bokor. ***