
SELATPANJANG - Menurut Pakar Lingkungan DR Elviriadi MSi, krisis lingkungan yang menimbulkan bencana alam karena sampai saat ini pemerintah belum membuat platform secara nasional penyelamatan lingkungan hidup.
"Bencana alam akibat eksploitasi pembangunan makin marak akhir-akhir ini. Presiden Jokowi harus tawarkan paket penyelamatan lingkungan jilid I untuk 10 tahun mendatang," kata Elviriadi saat berbincang-bincang dengan GoRiau.
Sejak Orde Baru (Orba), kata Ketua Bakomubin Riau itu, Indonesia seakan mengesampingkan urgensi daya dukung lingkungan. Selain itu juga tidak adanya platform sebagai haluan dasar pembenahan lingkungan.
Disampaikan Elviriadi lagi, presiden dapat mulai melangkah dengan mensinkronisasi antar kementerian yang berhubungan dengan penggunaan sumberdaya alam. Seperti Menteri ESDM, Menteri LHK, Menteri PU, Menteri ATR, dan Menteri Ekonomi dan Perdagangan. Mereka harus diberi visi green, yakni skenario penyelamatannya seperti apa.
"Ini yang terjadi kan tabrakan antar kementerian, yang paling sering kementerian LHK dengan kementerian perindustrian," katanya.
Bappenas sebagai perahu induk program nasional dapat berperan sebagai icon dalam operasionalisasi platform penyelamatan ekologisnya kepala negara. Langkah kedua yang dapat dilakukan presiden, tambah Elviriadi, adalah pelayanan satu pintu interkoneksi antar kementerian terhadap izin eksploitasi sumberdaya alam.
"Saya lihat Ibu Siti Nurbaya mati-matian memulihkan wajah lingkungan, tetapi tidak linier dengan agenda kementerian lain. Di Amerika, Uni Eropa, Malaysia, tidak gitu banget kejadiannya," ujar Elviriadi.
Masih menurut Anggota Society of Ethnobiology yang bermarkas di Ohio ini, Indonesia bisa dikategorikan negara dengan kekayaan alam melimpah tetapi overcrowded, pembiaran yang luar biasa. Kalau tetap tidak ada grand design negara terhadap laju degradasi alam ini, peluang bencana makin besar melanda negeri ini dengan anomali cuaca yang sukar diprediksi.
"Apalagi peran perguruan tinggi makin normatif alias remang-remang. Bila Ilmuan-nya pasif, bahkan kadang oportunis materialistis, tantangan pemerintah makin berat. Alih-aIih memberi masukan produktif, malah menyesatkan karena gila duit," tandas pria tambun yang mengaku ganteng itu di akhir bincang-bincang dengan GoRiau. ***