JAKARTA – Aroma upaya penghilangan jejak tercium kuat pasca Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap PT Blueray Cargo awal Februari lalu. Perusahaan jasa logistik ini diduga melakukan aksi "bersih-bersih" kilat, mulai dari menutup kantor hingga mencopot papan nama perusahaan, seiring mencuatnya nama Gito Huang yang diduga sebagai pengendali utama di balik layar.

Kepanikan manajemen Blueray ini terekam jelas dari laporan warganet di media sosial. Akun Instagram resmi @bluerayacargo.id dibanjiri komentar yang menyebut aktivitas tidak wajar di kantor-kantor cabang mereka.

"Wong kantornya saja mendadak tutup semua jumat kemarin plang nama saja dicopot dibuang. Sampai malam bersih-bersih. Yang kerja centeng-centengnya semua," tulis akun @handy.188, Senin (16/2/2026).

Senada dengan hal itu, akun @papoy_sh juga melaporkan hilangnya kendaraan mewah yang biasa terlihat di lokasi.

"Dekat kantor saya sudah dicabutin dan mobil alphard hitamnya sudah engga muncul lagi," ungkapnya.

Tak hanya fisik kantor yang "dihapus", akses digital ke situs resmi blueraycargo.co dan blueraycargo.id juga telah dimatikan total. Di tengah situasi ini, seorang perempuan yang mengaku mantan karyawan melalui akun @wida_luths membuka tabir baru. Ia menegaskan bahwa John Field, tersangka yang kini ditahan KPK, hanyalah "wayang", bukan pemilik sesungguhnya.

"Fyi ownernya bukan koh john kok dan as vou know beacukai engga sebersih itu dia orang yang selalu teriak minta makan. Buat BR in the god of name semoga soon will be better," bebernya.

Informasi ini mengarahkan telunjuk pada sosok Gito Huang. Meski namanya tidak tercantum dalam struktur manajemen resmi di situs perusahaan, jejak digital di LinkedIn memperlihatkan koneksi erat antara sejumlah pejabat Blueray dengan Gito. Pria yang diketahui kerap bermukim di China ini disebut rutin pulang ke Indonesia untuk memantau gurita bisnisnya.

Selain diduga mengendalikan Blueray, Gito memiliki rekam jejak bisnis yang luas melalui PT Komunitas Anak Bangsa (Koanba). Ia pernah mengembangkan aplikasi Kipaskipas, platform media sosial belanja yang dirintis saat pandemi 2020 namun kini tak lagi beroperasi. Kantor Koanba di sebuah rumah putih tiga lantai di Gandaria, Jakarta Selatan, juga menjadi alamat bagi PT Portal Media Nusantara yang menaungi media daring Pinusi. Media ini belakangan mendapat teguran Dewan Pers karena struktur redaksinya disinyalir fiktif dan berjalan autopilot.

Di lokasi yang sama, Gito juga diduga membangun rumah produksi konten bernama V-me Creative (dulunya VIP), yang sempat dikaitkan dengan artis Vicky Prasetyo sebelum pecah kongsi. Tiga lini bisnis ini disebut dikelola oleh dua orang kepercayaannya, Tian dan Ronny.

Di industri hiburan, nama Gito tercatat sebagai Eksekutif Produser film Anak Kunti yang rilis 20 Februari 2025, hasil kolaborasi Drias Production dan aplikasi Kipaskipas. Ia juga disebut dekat dengan manajer artis Nanda Persada, bahkan lobi kantornya kerap digunakan syuting siniar Podskuy yang digawangi Boris Bokir hingga Gading Marten.

Menanggapi dugaan adanya "big boss" lain di luar tersangka yang sudah ditahan, KPK menyatakan kesiapannya untuk mengembangkan penyidikan, termasuk memeriksa Gito Huang terkait kasus dugaan suap impor di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan ini.

"KPK terbuka peluang memanggil pihak-pihak yang dipandang perlu," tegas Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, Jumat (13/2/2026).

Penyidik kini tengah fokus mendalami konstruksi perkara secara utuh untuk memastikan siapa sebenarnya penerima manfaat utama dari praktik rasuah tersebut.

"KPK terbuka peluang memanggil pihak-pihak yang dipandang perlu dan dibutuhkan oleh penyidik dalam mengungkap perkara ini agar menjadi terang," tambah Budi.***