JAKARTA – Di tengah situasi bencana yang membuat ribuan warga kehilangan rumah, listrik, dan akses makanan, helikopter yang terdengar dari kejauhan semestinya menjadi pertanda harapan. Namun bagi warga Taput dan Sibolga, harapan itu justru pecah berantakan—secara harfiah.

Beras bantuan yang dilempar dari udara hancur sesaat setelah menyentuh tanah. Karung-karung yang sobek, butiran yang berserakan di lumpur, hingga paket sembako yang tak lagi layak dikonsumsi. Bukannya menjadi penolong, bantuan itu justru menyayat hati warga yang sudah berhari-hari kelaparan.

Di banyak titik, warga hanya bisa berjongkok memunguti sisa-sisa beras yang masih bisa diselamatkan. Ada yang membawa tas kecil, ada yang mengumpulkan dengan tangan kosong. Situasinya memilukan—di tengah darurat, mereka harus berebut bukan untuk stok, tapi untuk remah-remah.

“Kalau memang helikopter tak bisa mendarat, turunkan lebih dekat… pakai tali pun jadi. Jangan sampai hancur begini,” ujar seorang warga, dengan suara yang nyaris tenggelam di antara isakan anak-anak yang ikut menunggu bantuan.

Keluhan warga itu dipantulkan ribuan kali oleh warganet. Ada yang bertanya mengapa bantuan tidak menggunakan parasut seperti standar operasi udara. Ada pula yang membandingkan cara pendistribusian ini dengan adegan masa kolonial—bantuan dilempar tanpa peduli apakah sampai dalam keadaan baik atau tidak.

“Sudah sering kirim bantuan lewat udara, kok masih seperti ini? Tidak belajar dari pengalaman?” tulis seorang netizen.

Sebagian komentar bahkan menyentuh nada kemarahan.

“Ini bukan perang. Kenapa bantuan dilempar begitu saja? Tidak manusiawi.”

Namun di tengah gelombang kekecewaan, ada pula warga yang mencoba memahami situasi sulit itu.

“Mungkin niatnya ingin cepat membantu, tapi tetap… semua harus dipikirkan. Jangan sampai bantuan jadi sia-sia.”

Meski sebagian mencoba meredam emosi, kenyataannya kekecewaan tetap tak terbendung. Dalam kondisi bencana, satu karung beras bukan sekadar makanan—tetapi hidup bagi keluarga yang sudah dua hari tak makan. Dan ketika bantuan itu datang dalam keadaan hancur, luka psikologis warga bertambah dalam.

Harapan mereka sederhana: bantuan tiba dengan selamat. Tidak dilempar tanpa perlindungan, tidak pecah sebelum disentuh, dan tidak membuat mereka merasa seolah-olah nasibnya hanya diberi sisa. ***