SELATPANJANG, GORIAU.COM - Pemerintah Desa Alai Kecamatan Tebingtinggi Barat Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, berhasil mengolah ikan lomek menjadi berbagai panganan dengan nilai ekonomis. Ikan yang banyak terdapat di Meranti itu diolah menjadi nuget, bakso, otak-otak hingga kerupuk.


Kepala Desa Alai, Ruslan, Sabtu (21/6/2014) mengatakan telah membentuk kelompok masyarakat untuk mengolah ikan hasil tangkapan nelayan yang selama ini kurang dimanfaatkan. Sehingga tidak jarang, ikan-ikan ini dibuang atau diolah menjadi lomek kering karena kurangnya permintaan pasar sementara hasil tangkapannya cukup tinggi.
Ia juga mengatakan, ide ini bermula ketika melihat banyaknya sumber daya (ikan lomek) laut yang tidak diolah. Sehingga terfikirkan bagaimana caranya agar ikan lomek ini bisa menjadi produk hilir yang ekonomis.
Selain memiliki pengalaman dengan beberapa percobaan yang dilakukan, berbagai panganan itu, diakui Ruslan juga atas bantuan kelompok kuliah kerja nyata (Kukerta) mahasiswa Universitas Riau 2013 lalu.
"Jadi kepada mereka ini kita ceritakan banyaknya sumber daya laut khusus ikan lomek yang belum mampu diolah sehingga tidak jarang terbuang. Berangkat dari situ mereka melakukan berbagai percobaan, sampai jadilah bakso lomek," katanya.
Selain itu, ia dan istri juga pernah mendapatkan pelatihan dari Dinas Perikanan Provinsi Riau untuk mengolah berbagai hasil laut menjadi panganan yang memiliki nilai ekonomi.
"Kita belajar bikin naget, dan setelah itu kita dapat ide untuk mengolah ikan lomek ini menjadi naget. Setelah itu kita mulai lakukan inovasi-inovasi hingga jadi satu produk lagi yakni otak-otak," cerita Kades Alai itu.
Dari berbagai proses tersebut, baik mahsiswa maupun Ruslan dan istri mulai memberikan pengalaman dan pelatihan kepada masyarakat.
"Kita minta mahasiswa tadi untuk mengajarkan kepada warga bagaimana mengolah lomek menjadi bakso dan berbagai panganan lain. Sekarang kita sudah punya kelompok dapur pesisir yang melakukan pengolahan ini," ujar Ruslan.
Bersama kelompok dapur pesisir ini, Ruslan telah mulai melakukan pengembangan pemasaran produk mereka hingga ke Selatpanjang dan beberapa daerah lain jika ada yang memesan. Kini dalam satu hari kelompok dapur pesisir mengolah sekitar 30 Kg lomek yang sudah dibersihkan.
"Kalau untuk naget dan bakso dengan 30 Kg lomek bisa menghasilkan sekitar 60 Kg. Naget dan bakso ini kita jual dengan harga Rp 50 Ribu perkilo," jelas Ruslan.
Menurutnya hasil produk warganya itu cukup ramai peminatnya, hanya saja masih terkendala dengan pemasaran dan beberapa fasilitas untuk pengembangan.
"Kita pasarkan di rumah, di gerai-gerai yang ada di Selatpanjang. Rencananya kita mau buka kedai khusus dalam waktu dekat ini di Selatpanjang. Kita memang masih terkendala pada pemasaaran. Selain itu tidak lengkapnya fasilitas seperti frezer atau lemari pendingin, kita tidak bisa memproduksi bakso atau naget ini dalam jumlah besar," tukas Ruslan.***