SELATPANJANG - Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kepulauan Meranti, Darwin Susandy SHum, mengakui potensi wisata di Desa Mekong sangat besar. Desa itu diuntungkan dengan letak yang tak jauh dari Ibukota dan berada tepat di depan Selat Melaka.

Hal itu disampai Darwin setelah beberapa kali melakukan kunjungan ke Desa Mekong dalam rangka melihat dampak abrasi serta keberadaan turap penahan ombak. Rabu (31/8/2017) siang, Darwin bersama anggotanya Dedi Putra SHI dan Taufiek didampingi Camat Tebingtinggi Barat Helfandi, Kades Mekong A Rahman S, telah meninjau pantai yang mulai tergerus tebingnya oleh abrasi.

Kata Darwin hal yang mendukung itu antara lain jarak Desa Mekong dengan pusat Ibukota Kepulauan Meranti dekat. Akses jalan menuju ke Mekong juga sudah sangat bagus. Ditunjang pula dengan letak desa tepat di depan Selat Melaka yang merupakan jalur lintasan banyak kapal serta ferri.

"Potensi wisata di Desa Mekong sangat besar. Ini harus jadi salah satu ikon wisata andalan di Kepulauan Meranti," ujar Darwin.

Sebagai tempat baru pengembangan kepariwisataan, Darwin optimis hal itu bisa terlihat hasil dengan waktu tidak begitu lama. Ia pun menyarankan pihak terkait seperti Disparpora, Dinas PU, bersinergi melakukan pembangunan di sana.

"Di sana kan ada turap, itu harus ada peremajaan. Tepi pantai (turap, red) buat tulisan nama dengan huruf yang besar agar saat kapal melintas bisa membaca dan tertarik mau datang," tambah Darwin sambil mencontohkan tulisan Hollywood, Welcome Batam, dan Suwarnadwipa.

"Ini merupakan tempat baru yang harus kita kembangkan untuk menarik minat wisatawan. Posisi pantai sangat bagus, terletak di depan Selat Melaka," tambah Darwin.

Khusus kepada mitra kerjanya Dinas PU, Darwin meminta agar segera mengirim alat berat ke laut Desa Mekong. Ini diperlukan untuk peremajaan turap yang sekarang kondisinya sangat memprihatinkan. "Nunggu bangun baru lama, rawat saja turap yang ada. Harus ada peremajaan turap, batu-batu yang dibuang rekanan di tengah laut pindahkan untuk penahan ombak sebelum menghantam turap. Kalau lambat dikerjakan, turap yang ada akan hancur semua," katanya lagi.

Apa yang disampaikan Darwin sebenarnya sudah terfikirkan oleh warga dan kepala desa setempat. Namun, kendala anggaran menjadi salah satu alasan mengapa hingga saat ini belum juga ada lokasi wisata di desa yang terletak depan Selat Melaka itu. ***