
TELUK KUANTAN, GORIAU.COM - "Niat itu datang dari lubuk hati saya yang paling dalam. Saya ingin membantu masyarakat Kuansing. Jika mau mencari uang, lebih baik saya fokus dengan pekerjaan sekarang, bekerja swasta."
Itulah jawaban yang disampaikan H. Halim, Rabu (20/5/2015) sore di Teluk Kuantan, ketika ditanya apa yang mendasari keinginannya maju sebagai Calon Wakil Bupati Kuantan Singingi (Kuansing) pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Desember mendatang.
Saat ini, pria kelahiran Teluk Kuantan 16 Februari 1965 itu kian santer menjadi buah bibir masyarakat. Tidak hanya di ibukota kabupaten, tapi sampai ke pelosok-pelosok. Ia menyatakan maju bersama Mursini pada pertarungan kepala daerah untuk periode 2015-2020.
"Saya tidak punya kepentingan pribadi untuk maju ini. Semua fasilitas sudah saya miliki. Kepentingan yang akan saya bawa hanya kepentingan masyarakat, bagaimana Kuansing ini maju sesuai dengan semboyannya," ujar Halim atau yang lebih akrab disapa Aliang.
Kondisi perekonomian masyarakat yang morat-marit saat ini, membuat Halim merasa terpanggil untuk membenahinya. Baginya, Kuansing akan sulit maju jika infrastruktur seperti jalan dan jembatan tidak merata.
"Perekonomian masyarakat akan bisa berjalan dengan lancar jika infrastruktur seperti jalan bagus. Tapi, kalau infrastruktur tidak bagus, jangan harap perekonomian bisa jalan," ucapnya.
Oleh karena itu, ketika terpilih nanti dirinya bersama Mursini akan fokus pada kepentingan rakyat. "Ketika infrastruktur sudah bagus, kita bisa menghidupkan sektor lainnya," tegas Halim.
Di mata Halim, Kuansing merupakan daerah yang pas dalam mengembangkan sektor perkebunan, terutama kelapa sawit. Kenapa kelapa sawit? Sebab, selama 10 tahun terakhir kelapa sawit mampu meningkatkan taraf ekonomi masyarakat.
"Sementara, untuk karet kita tidak bisa berbuat apa-apa. Karena, harga karet diatur oleh dunia dan Indonesia tak bisa ikut campur," ujar dia. Untuk itu, ia akan mengarahkan agar masyarakat mengganti tanaman karet dengan kelapa sawit.
"Kita akan bantu masyarakat bibit unggul, itu gratis. Dan kalau perlu, kita akan subsidi pupuk untuk lima tahun pertama," katanya. Ia yakin, jika masyarakat mendapat pelatihan tata kelola pertanian yang baik, tentu perkebunan akan berhasil.
"Kalau ini sudah jalan, kita akan undang investor untuk menanamkan modal di Kuansing. Kita akan coba yakinkan mereka yang selama ini ragu-ragu untuk invest di sini," lanjut Halim.
Di sisi lain, Halim mengapresiasi Pemkab Kuansing yang telah membangun kebun kelapa sawit. Menurutnya, jika kebun tersebut dikelola secara benar, akan mendatangkan PAD untuk Kuansing. "Kita perlu bentuk BUMD untuk mengelolanya, BUMD yang akan bergerak di bidang perkebunan dan PKS."
"Saya yakin, ini pasti akan mendatangkan PAD cukup besar untuk Kuansing," tambah Halim. Selama ini, belum ada perusahaan swasta yang bergerak di perkebunan kelapa sawit yang merugi.
Oleh karena itu, dinas perkebunan sebagai ujung tombak dalam memajukan dunia perkebunan harus optimal. "Agar kita bisa menggenjot PAD," kata Halim.
Persoalan birokrasi di Kuansing juga menjadi perhatian khusus oleh Halim dan Mursini. Menurutnya, pemerintahan yang baik akan bisa berjalan secara baik, ketika diisi oleh orang-orang yang tepat.
"Kita minta mereka profesional, kita akan tempat seseorang sesuai kemampuannya. Dan satu hal yang perlu diingat, saya tidak akan mengganggu proyek mereka. Biarkan dikerjakan oleh kontraktor dengan benar. Saya tak ingin uangnya, yang saya ingin pembangunannya," tegas Halim.
Halim 'Kecil', Pembuat Kerupuk Sagu
Siapa sangka, Halim yang saat ini menjadi pengusaha sukses di Kuansing lahir dari keluarga serba kekurangan. Orangtuanya hanya bekerja sebagai pembuat kerupuk sagu di pasar bawah Teluk Kuantan.
Kendati demikian, ia mampu mengenyam pendidikan hingga kelas 3 SMA tahun 1983. Namun, karena himpitan ekonomi dan banyaknya desakan kebutuhan, ia tak bisa menyelesaikan sekolah di SMA N 1 Teluk Kuantan. "Sudah hampir ujian akhir, saya berhenti karena kesulitan ekonomi. Tapi sekarang ada ijazah setara SMA,"
H Halim dikenal dermawan oleh masyarakat, tak jarang ia selalu bersedekah. Termasuk saat hari raya Idul Adha. "Setelah itu, saya bekerja membuat kerupuk sagu, berjemur di tengah panas bersama kedua orangtua," kenang Halim. Setahun ia melakoni pekerjaan itu. Ia melihat tidak ada perubahan dalam hidupnya, lantas berpikir untuk merantau ke Pulau Jawa.
"Saya merantau ke Bandung dan Jakarta, dua tahun lamanya. Namun tak jua ada peningkatan dan akhirnya memutuskan untuk pulang," kata Halim.
Sesampai di kampung, Teluk Kuantan, ia mencoba untuk hidup mandiri. Salah satu usaha yang dicobanya berjualan rotan. "Rotan itu saya jemput dari eks trans."
"Untuk menjemputnya, saya harus menyewa honda (sepeda motor) kepada orang Sentajo, Rp5 ribu per hari," katanya sambil tersenyum.
Pada tahun 1989, Halim bertemu dengan Yuniwati, seorang gadis yang berasal dari Peranap. Tahun itu, mereka melangsungkan pernikahan secara Islam. "Tahun itu, saya memutuskan untuk masuk Islam. Tak ada paksaan dari orang lain, memang dari hati dan istri selalu mendorong."
"Saat itu juga, kehidupan kami secara ekonomi mulai berubah drastis," tambahnya. Dari hasil perkawinan itu, Halim dikaruniai tiga orang anak, yakni Roni, Sely dan Sandi. Saat ini, Roni lebih fokus mengurus perkebunan dan Sely sedang menyelesaikan pendidikan Dokter Gigi di Universitas Trisakti. Sementara, Sandi masih berstatus pelajar di SMA Dharmayuda Pekanbaru.(ndi)